Jumat, 03 Jan 2020 18:00 WIB

Diet Keto Diprediksi Jadi Diet Terburuk yang Tetap Ngehits di 2020

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Diet keto diprediksi jadi diet terburuk di tahun 2020 ini. Foto: Shutterstock
Jakarta - Nama diet keto menggaung selama beberapa tahun terakhir. Terkenal sebagai salah satu diet yang 'berhasil' menurunkan bobot, banyak ahli justru setuju bahwa di tahun 2020 ini diet keto justru jadi diet terburuk. Mengapa?

Sebelumnya, diet keto atau ketogenik dilakukan bertujuan untuk memunculkan ketosis, kondisi metabolik yang membakar lemak yang disimpan oleh tubuh, bukannya karbohidrat, sumber energi alami tubuh.

Untuk mendapatkannya maka asupan karbohidrat harus dipangkas. Hal inilah yang merisaukan para nutrisionis, karena menurut mereka cara tersebut tidaklah sehat, demikian dikutip dari CNN.

Karbohidrat setidaknya dibatasi hanya 20 gram per hari dalam diet keto, dengan kadar sedrastis itu, diet keto bisa menyebabkan pusing, mual, sakit kepala, dan kelelahan di awalnya. Studi jangka panjang soal keefektifannya masih kurang.


Sebagai gantinya, diet keto mengharuskan kita memakan protein, lemak, susu dalam jumlah besar yang secara umum bisa berkontribusi pada penyakit kardiovaskular dan penyakit kronis lainnya.

"Cara 'terbaik' untuk menurunkan berat badan dengan cepat adalah melakukan hal bodoh, tak berkelanjutan, dan bisa dibilang tak bertanggung jawab. Sebenarnya bukan terbaik, hanya cepat," kata Dr David Katz, presiden True Health Initiative, organisasi non profit yang berdedikasi pada penyebaran kepedulian kesehatan dan pencegahan penyakit.

Ia melanjutkan, banyak hal yang sebenarnya buruk bagi kesehatan bisa menyebabkan penurunan bobot sementara. Diet yang paling efektif untuk penurunan bobot 'cepat' memberikan batasan yang ketat sehingga tak lagi bisa dijaga atau cocok dengan kesehatan.

Hal ini disebabkan penurunan bobot yang cepat umumnya menekankan pada pengurangan nutrisi secara drastis atau penghapusan seluruh kelompok makanan yang tidak dapat dipertahankan seiring waktu. Ketika dietnya berhenti, bobotnya kembali, malah bisa lebih tinggi dari awalnya, ini adalah respons tubuh terhadap diet 'yo-yo'.

"Menghabiskan hidupmu dengan terobsesi dengan berat badan, dan menjalani dan menghentikan diet, bukanlah cara untuk hidup," pungkas Katz.



Simak Video "Kunci Sukses Arya Permana Turunkan Berat Badan"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)