Rabu, 29 Jan 2020 13:02 WIB

Rosidah Dibunuh karena Olok-olok Gendut, Kenali Body Shaming dan Dampaknya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Polisi menangkap Ali Heri Sanjaya (27). Ia merupakan pembunuh Rosidah, wanita yang mayatnya ditemukan gosong terbakar. Pembunuh Rosidah mengaku tersinggung diolok-olok gendut (Foto: Ardian Fanani)
Jakarta -

Seorang pria asal Lingkungan Brak, Desa/Kecamatan Kalipuro bernama Ali Heri Sanjaya (27) tega membunuh teman kerjanya. Ia ditangkap polisi pada Selasa (28/1/2020) kemarin.

Ali tega membunuh Rosidah, teman kerjanya, karena alasan dendam. Ia tidak terima karena sering diolok-olok gendut atau mendapat body shaming dari korban.

"Selama bekerja korban sering menghina pelaku dengan kata-kata gendut, boboho, sumo, dan kesulitan ekonomi," ujar Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifudin kepada detikcom.

Body shaming merupakan jenis bullyan yang dilakukan dengan mengomentari fisik atau tubuh dengan cara yang negatif. Misalnya, gendut, kurus, pendek, dan lain sebagainya.

Psikolog Elizabeth Santosa mengatakan, bercanda dengan anggota tubuh sebagai bahannya adalah hal yang tidak baik. Menurutnya, kita tidak akan bisa tahu apa yang dirasakan orang tersebut dan dampaknya akan seperti apa.

"Kita tidak tahu bagaimana perasaan orang yang jadi korban. Jika orangnya cuek mungkin tidak masalah, tapi bagaimana jika korbannya cenderung bawa perasaan (baper)," katanya beberapa waktu lalu.

"Dampaknya secara psikologis sebetulnya sangat luas ya terutama self esteem yang menurun, rasa keberhargaan dirinya," kata psikolog Universitas Indonesia, Bona Sardo, MPsi.

Bona mengatakan dampak lain dari body shaming, bisa saja membuat korbannya merasa stres dan depresi. Orang itu akan merasa bahwa dirinya tidak sempurna, terutama pada bagian tubuh yang menjadi fokus ujaran dalam body shaming.



Simak Video "Apa Sih Quarter Life Crisis?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)