Tubuh manusia sebenarnya bisa beradaptasi dan mentoleransi apabila menerima kesalahan kecil dalam pola makan, begadang sesekali, atau asupan manis yang berlebihan pada hari-hari tertentu. Di saat gula menjadi bagian dominan dari pola makan harian, tubuh tidak langsung jatuh sakit. Ia justru beradaptasi, menyesuaikan diri, lalu mengirim sinyal-sinyal halus dari berbagai organ.
Istilah "overdosis" gula tidak merujuk pada kondisi akut seperti keracunan. Ini adalah keadaan kronis, ketika tubuh terus-menerus menerima gula lebih banyak daripada yang bisa diolah dengan efisien. Dampaknya menyebar ke banyak organ, bukan sekaligus, tapi bertahap. Sering kali, keluhan awalnya dianggap wajar seperti lelah, sulit fokus, cepat lapar, atau merasa "tidak fit" tanpa alasan jelas.
1. Pankreas
Pankreas adalah penjaga utama keseimbangan gula darah. Setiap kali makan, terutama makanan tinggi karbohidrat sederhana atau minuman manis, pankreas merespons dengan melepaskan insulin. Insulin bertugas membuka pintu sel agar gula bisa masuk dan digunakan sebagai energi.
Masalah muncul ketika lonjakan gula terjadi terlalu sering. Pankreas dipaksa memproduksi insulin dalam jumlah besar dan berulang. Dalam jangka panjang, sel-sel tubuh mulai kurang responsif terhadap insulin. Inilah awal resistensi insulin penyebab diabetes.
Penelitian di Diabetes Care dan The Lancet Diabetes & Endocrinology menunjukkan bahwa fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun sebelum diabetes terdiagnosis. Pankreas bekerja lebih keras ketika konsumsi gula terlalu banyak sehingga membuat tubuh cepat lapar meski baru makan, mudah mengantuk setelah makan besar, dan berat badan naik perlahan, terutama di area perut. Banyak yang mengira ini sekadar tanda usia bertambah atau kurang olahraga, padahal pankreas sedang bekerja terlalu keras.
2. Otak
Otak membutuhkan pasokan glukosa yang stabil. Asupan gula yang berlebih bisa menyebabkan sugar rush yaitu kondisi energi melonjak tinggi, dan sugar crash yaitu kondisi energi menurun drastis. Fluktuasi gula darah yang tajam membuat pasokan ini tidak konsisten. Akibatnya, fungsi kognitif bisa terganggu meski seseorang tidak sedang kurang tidur atau stres berat.
Dalam kondisi ini, seseorang bisa merasa sulit fokus, mudah terdistraksi, atau seperti ada kabut tipis yang menyelimuti pikiran (brain fog). Penelitian terbaru di jurnal Frontiers in Neuroscience dan Nutrients tahun 2022 menunjukkan bahwa fluktuasi gula darah berulang berkaitan dengan peradangan ringan di otak dan gangguan fungsi kognitif jangka pendek. Inilah yang sering dirasakan sebagai brain fog, sulit fokus, mudah lupa, dan mental terasa cepat lelah.
3. Kulit
Kulit sering menjadi organ yang paling jujur dalam menunjukkan kondisi metabolik. Ketika kadar gula dalam darah sering tinggi, terjadi proses yang disebut glikasi. Molekul gula menempel pada protein kolagen dan elastin, dua komponen penting yang menjaga kulit tetap kenyal dan elastis.
Kondisi ini dapat menyebabkan kulit kehilangan kekenyalannya lebih cepat, tampak kusam, dan lebih mudah meradang. Jerawat yang sulit sembuh atau muncul berulang juga sering berkaitan dengan lonjakan insulin yang memicu produksi sebum berlebih.
Dalam jurnal Clinical Dermatology dan Dermato Endocrinology, disebutkan bahwa kondisi seperti acanthosis nigricans sering kali menjadi tanda awal dari kulit disebabkan seringnya kadar gula darah yang tinggi. Acanthosis nigricans adalah kondisi kulit di leher, ketiak, atau lipatan tubuh menjadi gelap, tebal, dan bertekstur bukan karena kotor, melainkan karena sel kulit merespons kadar insulin yang tinggi.
Simak Video "Video Kemenkes Warning 65 Juta Warga RI Kena Hipertensi Akibat Hobi Asin!"
(mal/up)