Saat memilih susu, banyak orang langsung melirik label gizi: berapa gram gula, kalori, atau lemak yang tercantum di kemasan. Angka-angka tersebut kerap dijadikan patokan utama untuk menilai apakah suatu produk aman, terutama bagi mereka yang ingin menjaga gula darah. Namun, anggapan ini tidak selalu tepat.
Faktanya, respons gula darah tidak hanya ditentukan oleh jumlah gula yang tertera di label. Cara tubuh memproses karbohidrat, komposisi nutrisi di dalam susu, hingga kecepatan penyerapan gula turut berperan dalam menentukan dampaknya bagi tubuh. Lantas, faktor apa saja yang membuat dampak susu terhadap gula darah tak bisa dinilai dari label gizi saja?
Label Gizi Memberi Informasi, Tapi Tidak Selalu Utuh
Label gizi hanya menunjukkan berapa banyak zat gizi yang terkandung. Padahal, dua merek produk susu yang berbeda bisa saja mencantumkan jumlah gula yang hampir sama, tetapi memicu respons gula darah yang berbeda. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak tercantum di label gizi, mulai dari jenis karbohidrat yang digunakan, bentuk gula di dalam produk, hingga cara zat gizi tersebut diserap tubuh di saluran cerna.
Di sinilah sering muncul kesalahpahaman. Produk dengan label "rendah gula" kerap langsung dianggap aman bagi gula darah, padahal respons metabolik tubuh tidak sesederhana itu. Tanpa memahami konteks di balik angka-angka tersebut, konsumen berisiko merasa sudah membuat pilihan yang tepat, sementara dampaknya terhadap gula darah belum tentu sesuai harapan.
Laktosa dan Sukrosa: Sama-sama Gula, Dampaknya Berbeda
Dalam konteks susu, tidak semua gula bekerja dengan cara yang sama di dalam tubuh. Gula alami utama dalam susu adalah laktosa, sementara sukrosa merupakan gula yang kerap ditambahkan sebagai pemanis pada produk susu atau minuman rasa. Meski sama-sama tergolong karbohidrat sederhana, keduanya diproses tubuh dengan cara yang berbeda.
Laktosa adalah gula alami susu yang tersusun dari glukosa dan galaktosa. Agar dapat diserap tubuh, laktosa harus dipecah terlebih dahulu oleh enzim laktase di saluran cerna. Proses ini membuat penyerapan gula berlangsung lebih bertahap, sehingga lonjakan gula darah umumnya tidak terjadi secepat gula sederhana lainnya jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Sebaliknya, sukrosa bukanlah gula susu, melainkan gula meja yang umum digunakan sebagai pemanis tambahan. Sukrosa lebih cepat diserap tubuh dan lebih mudah memicu lonjakan gula darah, terutama bila dikonsumsi dalam bentuk cair.
Hal ini juga disoroti oleh Dr dr Klara Yuliarti, SpA, Subsp.N.P.M(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dalam seminar media bertajuk "Label Makanan yang Harus Diketahui Orangtua untuk Anak" dalam rangka Hari Gizi Nasional (27/01/2026), ia menjelaskan bahwa istilah "gula" pada label sering kali mencakup gula alami dan gula tambahan sekaligus.
Menurutnya, gula tidak selalu berarti buruk. Dalam susu, laktosa merupakan gula alami yang dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi dan berperan dalam proses pertumbuhan, termasuk perkembangan otak. Yang perlu diwaspadai adalah gula tambahan, seperti sukrosa atau pemanis lain yang ditambahkan untuk memberi rasa manis.
Ia menegaskan bahwa batas asupan gula tambahan menurut WHO maksimal 10 persen dari total energi harian, dan idealnya diturunkan hingga di bawah 5 persen untuk manfaat kesehatan tambahan. Pada orang dewasa, batas ini setara dengan sekitar 25 gram gula per hari. Batasan tersebut tidak ditujukan untuk laktosa alami dalam susu, melainkan untuk gula tambahan yang kerap dikonsumsi tanpa disadari.
Simak Video "Video Kemenkes Warning 65 Juta Warga RI Kena Hipertensi Akibat Hobi Asin!"
(fti/up)