Kolom Gizi

Ancaman GERD di Balik Keseruan Bukber 'All You Can Eat'

Mhd. Aldrian, S.Gz - detikHealth
Rabu, 04 Mar 2026 07:02 WIB
All You Can Eat. Foto: Getty Images/iStockphoto/Pattarisara Suvichanarakul
Jakarta -

Restoran All You Can Eat (AYCE) kerap menjadi pilihan buka puasa bersama. Setelah hampir seharian tidak makan dan minum, keinginan untuk langsung menikmati berbagai menu dalam jumlah banyak terasa sangat kuat.

Daging berlemak, makanan pedas, gorengan, hingga minuman manis sering dikonsumsi hampir bersamaan dalam waktu singkat. Tidak sedikit yang merasa momen berbuka adalah waktu untuk "balas dendam" untuk makan dengan porsi yang jauh lebih besar dibanding biasanya.

Tubuh yang seharian kosong memang seperti memberi sinyal ingin diisi cepat dan banyak. Situasi ini membuat lambung menerima asupan dalam volume besar secara tiba-tiba. Ketika makanan masuk dalam jumlah besar sekaligus, terutama yang berlemak dan pedas, tekanan di dalam lambung meningkat.

Tidak sedikit yang kemudian mengeluh perut terasa sangat penuh, cepat kenyang, mual, atau tidak nyaman di ulu hati beberapa saat setelah makan. Keluhan ini sering langsung dianggap sebagai asam lambung naik atau GERD. Padahal, pada banyak kasus, GERD tidak muncul tiba-tiba tapi akibat dipicu secara terus-menerus dari kondisi dispepsia.

Dispepsia, Keluhan yang Sering Dianggap Maag Biasa

Dispepsia adalah kumpulan gejala berupa rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, nyeri atau rasa terbakar di ulu hati, serta kembung yang mengganggu. Banyak yang menyebutnya sebagai maag, padahal secara medis istilahnya lebih luas dan tidak selalu berkaitan dengan luka pada dinding lambung. Pada sebagian besar kasus, keluhan muncul karena gangguan fungsi, bukan karena ada luka di lambung.

Makan dalam porsi besar, terutama tinggi lemak, dapat memperlambat pengosongan lambung. Isi lambung bertahan lebih lama, tekanan di dalamnya meningkat, dan dinding lambung teregang. Respons ini memicu sensasi begah, mual, hingga rasa tidak nyaman yang menetap.

Dalam konteks berbuka puasa, perubahan pola makan yang drastis turut berperan. Lambung yang seharian kosong tiba-tiba menerima asupan dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kondisi ini sering disebut masyarakat sebagai "lambung kaget". Secara fisiologis, yang terjadi adalah adaptasi mendadak terhadap volume dan komposisi makanan yang berat, sehingga fungsi gerak lambung tidak seefisien biasanya.

Jika kebiasaan ini terjadi sesekali, keluhan umumnya bersifat sementara dan membaik dengan pengaturan pola makan. Namun bila pola makan berlebihan saat berbuka terus berulang, dispepsia dapat muncul lebih sering dan terasa semakin mengganggu, terutama pada malam hari menjelang istirahat.



Simak Video "Video: Jangan Salah Kaprah Soal GERD"


(mal/up)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork