Arus mudik Lebaran mulai terasa di berbagai jalur transportasi. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memperkirakan sekitar 143,91 juta orang akan melakukan perjalanan mudik tahun ini, baik menggunakan kendaraan pribadi, bus, kereta api, pesawat, hingga kapal laut. Sejumlah pemudik bahkan sudah mulai berangkat lebih awal untuk menghindari puncak kepadatan lalu lintas yang biasanya terjadi mendekati hari raya.
Perjalanan jauh selama berjam-jam tentu membutuhkan persiapan yang matang. Tidak hanya soal kendaraan, rute perjalanan, atau barang bawaan, kondisi tubuh juga perlu diperhatikan agar perjalanan tetap nyaman hingga sampai tujuan.
Salah satu keluhan yang cukup sering dialami selama perjalanan jauh adalah mabuk perjalanan. Kepala terasa pusing, perut mulai tidak nyaman, lalu muncul rasa mual yang mengganggu sepanjang perjalanan. Kondisi ini sering muncul ketika tubuh terus menerima guncangan kendaraan dalam waktu lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dipengaruhi oleh gerakan kendaraan, kondisi lambung juga ikut berperan. Apa yang dimakan atau diminum sebelum berangkat dapat membuat perut lebih sensitif terhadap gerakan selama perjalanan. Karena itu, ada beberapa jenis makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari sebelum memulai perjalanan jauh agar risiko mabuk perjalanan bisa ditekan.
Makanan Tinggi Lemak
Makanan tinggi lemak seperti gorengan dan makanan cepat saji sering dikonsumsi sebelum bepergian karena mudah ditemukan. Namun jenis makanan ini membuat proses pencernaan berlangsung lebih lama.
Lemak membutuhkan waktu lebih panjang untuk dicerna dibandingkan karbohidrat atau protein. Ketika makanan tinggi lemak masuk ke lambung, proses pengosongan lambung berlangsung lebih lama agar proses pencernaan berjalan optimal.
Kondisi lambung yang penuh dapat memperkuat sensasi mual saat tubuh mengalami gerakan berulang selama perjalanan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Therapeutic Advances in Gastroenterology menjelaskan bahwa gejala mual dapat menjadi lebih berat ketika seseorang melakukan perjalanan dengan lambung yang penuh, karena sinyal dari saluran cerna ikut terlibat dalam mekanisme munculnya mual.
Ketika kendaraan bergerak dan tubuh mengalami guncangan terus-menerus, sinyal dari lambung yang sedang mencerna makanan dapat memperkuat respons mual yang diproses oleh otak. Kombinasi antara gerakan kendaraan dan kondisi lambung yang penuh membuat rasa tidak nyaman di perut lebih mudah muncul selama perjalanan.
Makanan Terlalu Pedas
Makanan pedas menjadi bagian dari kebiasaan makan banyak orang Indonesia. Sambal sering hadir di hampir setiap menu makan. Namun sebelum perjalanan jauh, makanan pedas dapat membuat lambung lebih sensitif.
Cabai mengandung capsaicin, senyawa yang memberikan sensasi panas dan pedas. Senyawa ini bekerja dengan merangsang reseptor nyeri di saluran pencernaan. Aktivitas tersebut dapat meningkatkan sensitivitas lambung dan merangsang produksi asam lambung.
Penelitian dalam American Journal of Gastroenterology menunjukkan bahwa paparan capsaicin dapat meningkatkan sensitivitas visceral pada saluran pencernaan. Kondisi ini membuat lambung dan usus lebih mudah merespons rangsangan fisik maupun kimia.
Gerakan kendaraan yang berlangsung terus selama perjalanan membuat lambung yang sensitif lebih mudah memunculkan rasa tidak nyaman. Sensasi ini dapat berkembang menjadi mual, perut terasa melilit, atau rasa panas di perut selama perjalanan.
Minuman Berkafein
Banyak yang minum kopi atau teh sebelum perjalanan agar tubuh terasa lebih segar dan tidak mengantuk. Kafein bekerja dengan merangsang sistem saraf pusat sehingga meningkatkan kewaspadaan dan membuat tubuh terasa lebih terjaga.
Kafein juga memengaruhi aktivitas saluran pencernaan. Senyawa ini diketahui dapat merangsang produksi asam lambung serta meningkatkan aktivitas gastrointestinal.
Studi ilmiah dalam jurnal Nutrients tahun 2020 melaporkan bahwa konsumsi kafein dapat meningkatkan sekresi asam lambung dan memengaruhi aktivitas saluran cerna. Kondisi tersebut pada sebagian orang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada lambung.
Sekresi asam lambung yang meningkat bisa membuat perut terasa lebih sensitif ketika tubuh terus menerima guncangan selama perjalanan. Sensasi tidak nyaman pada lambung tersebut sering berkembang menjadi rasa mual pada yang rentan mengalami mabuk perjalanan. Efek diuretik ringan dari kafein juga dapat meningkatkan kehilangan cairan tubuh, yang pada sebagian orang ikut memperkuat rasa pusing selama perjalanan.
Minuman Bersoda
Minuman bersoda sering dipilih karena terasa menyegarkan, terutama saat cuaca panas atau ketika perjalanan terasa melelahkan. Sensasi segar tersebut berasal dari karbonasi, yaitu gas karbon dioksida yang terlarut dalam minuman.
Karbonasi menghasilkan gelembung gas yang dapat menumpuk di dalam lambung. Gas tersebut membuat perut terasa lebih penuh dan kembung karena dinding lambung mengalami peregangan.
Penelitian dalam 8 tahun 2018 menjelaskan bahwa peningkatan gas di lambung dapat memicu sensasi distensi atau peregangan pada dinding lambung. Kondisi ini berkaitan dengan munculnya rasa tidak nyaman di perut serta sensasi mual pada beberapa orang.
Perut yang terasa penuh oleh gas menjadi lebih sensitif terhadap gerakan tubuh. Guncangan kendaraan selama perjalanan dapat memperkuat rasa tidak nyaman di lambung. Sensasi kembung yang bercampur dengan goncangan di dalam kendaraan sering memicu mual pada orang yang rentan mengalami mabuk perjalanan.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)











































