Belakangan ini semakin banyak konten di media sosial yang mengaitkan makanan tertentu dengan kemampuan "menenangkan pikiran". Ada yang menyebut pisang sebagai penangkal cemas, ada pula yang percaya segelas susu hangat bisa langsung meredakan rasa gelisah. Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan penuh tekanan, wajar jika banyak yang mencari cara sederhana untuk menenangkan diri, termasuk lewat makanan.
Namun, apakah benar ada makanan yang bisa langsung menghilangkan anxiety? Atau sebenarnya anggapan tersebut hanya sekedar cerita saja?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Apa Itu Anxiety
Rasa cemas sebenarnya merupakan bagian alami dari respons tubuh manusia. Ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau menekan, otak akan mengaktifkan sistem pertahanan tubuh. Detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, dan tubuh bersiap menghadapi situasi tersebut.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai anxiety atau gangguan kecemasan. Perbedaannya dengan rasa cemas biasa terletak pada intensitas dan durasinya. Pada gangguan kecemasan, rasa takut atau khawatir bisa muncul terus-menerus, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata.
Sebuah tinjauan dalam jurnal Nature Reviews Disease Primers tahun 2017 menjelaskan bahwa gangguan kecemasan melibatkan interaksi kompleks antara sistem saraf, hormon stres seperti kortisol, serta aktivitas neurotransmitter di otak seperti serotonin dan gamma-aminobutyric acid (GABA). Sistem ini bekerja seperti jaringan komunikasi yang sangat rumit, sehingga perubahan kecil saja bisa memengaruhi suasana hati seseorang.
Karena itu, pengelolaan anxiety biasanya melibatkan berbagai pendekatan sekaligus, mulai dari terapi psikologis, pengelolaan stres, aktivitas fisik, hingga pola makan yang lebih seimbang.
Di sinilah kemudian muncul berbagai klaim tentang makanan yang dianggap bisa menjadi "penangkal" anxiety.
Deretan Makanan yang Disebut-sebut Bisa Menangkal Anxiety
Sejumlah makanan sering disebut mampu meredakan kecemasan secara langsung. Sebagian klaim ini berangkat dari fakta ilmiah yang kemudian disederhanakan, sehingga terkesan seolah satu makanan tertentu dapat menjadi solusi instan.
1. Pisang
Pisang sering dikaitkan dengan kesehatan mental karena mengandung vitamin B6 yang berperan dalam pembentukan serotonin, salah satu neurotransmitter yang berkaitan dengan suasana hati.
Memang benar vitamin B6 dibutuhkan dalam proses sintesis serotonin di otak. Nutrisi ini membantu berbagai reaksi enzimatik yang memungkinkan tubuh memproduksi zat kimia saraf yang berperan dalam mengatur emosi, kualitas tidur, serta respons terhadap stres.
Namun penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients menjelaskan bahwa produksi neurotransmitter tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja. Proses tersebut melibatkan banyak komponen sekaligus, mulai dari keseimbangan asupan protein, vitamin B kompleks lain, mineral, hingga kondisi metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Karena itu, mengonsumsi satu buah pisang tidak secara otomatis membuat rasa cemas langsung mereda. Pisang tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehat yang mendukung fungsi saraf, tetapi efek terhadap kesehatan mental biasanya muncul dari pola makan yang konsisten dan seimbang dalam jangka panjang, bukan dari satu makanan tertentu yang dikonsumsi sesekali.
Kesimpulan: Cuma MITOS
2. Susu
Minum susu hangat sebelum tidur sering dianggap mampu membuat tubuh lebih tenang. Keyakinan ini biasanya dikaitkan dengan kandungan triptofan dalam susu, yaitu asam amino yang digunakan tubuh untuk memproduksi serotonin dan melatonin.
Meski secara teori benar, para peneliti menjelaskan bahwa jumlah triptofan dalam satu gelas susu relatif kecil. Proses metabolisme di tubuh juga sangat kompleks, sehingga efeknya tidak sesederhana yang sering digambarkan.
Dalam banyak kasus, rasa nyaman setelah minum susu hangat lebih berkaitan dengan efek psikologis dari rutinitas yang menenangkan sebelum tidur.
Kesimpulan: Cuma MITOS
3. Coklat
Cokelat, terutama dark chocolate, sering disebut sebagai makanan pengusir stres. Anggapan ini muncul karena kakao mengandung flavonoid yang diketahui dapat memengaruhi aliran darah ke otak serta berkaitan dengan regulasi suasana hati.
Beberapa penelitian memang menemukan bahwa senyawa dalam kakao berpotensi membantu menurunkan respons stres pada kondisi tertentu. Namun efek tersebut biasanya terlihat pada pola konsumsi jangka panjang dengan kandungan kakao yang cukup tinggi, bukan dari konsumsi cokelat sesekali.
Di sisi lain, banyak produk cokelat di pasaran juga mengandung gula yang cukup tinggi. Konsumsi berlebihan justru dapat memicu fluktuasi gula darah yang pada sebagian orang membuat tubuh terasa lebih gelisah. Karena itu, menyebut cokelat sebagai obat stres instan sebenarnya terlalu menyederhanakan mekanisme yang terjadi di dalam tubuh.
Kesimpulan: Cuma MITOS
4. Kopi
Kopi juga kerap disebut mampu memperbaiki suasana hati karena kandungan kafeinnya dapat meningkatkan kewaspadaan dan energi. Bagi sebagian orang, secangkir kopi di pagi hari memang terasa seperti "pemicu semangat" sebelum memulai aktivitas.
Namun hubungan antara kopi dan kesehatan mental ternyata tidak sesederhana itu. Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda.
Studi dalam jurnal Psychiatry Research tahun 2023 sebelumnya yang meneliti hubungan antara konsumsi kopi dan kesehatan mental, khususnya depresi dan kecemasan, telah menghasilkan hasil yang tidak konsisten mengenai arah hubungan atau asupan harian optimal.
Kafein bekerja dengan merangsang sistem saraf pusat. Pada sebagian orang efek ini dapat meningkatkan fokus, tetapi pada orang lain justru bisa memicu jantung berdebar, gelisah, hingga memperparah gejala kecemasan jika dikonsumsi berlebihan.
Karena itu, kopi tidak bisa dianggap sebagai "penangkal anxiety". Respons tubuh terhadap kafein sangat individual dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk sensitivitas tubuh serta jumlah yang dikonsumsi.
Kesimpulan: Cuma MITOS
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)











































