Rasa manis memang mudah disukai anak-anak. Namun di tengah banyaknya minuman manis, camilan kemasan, hingga makanan olahan, asupan gula anak sering tanpa sadar menjadi berlebihan.
Padahal tidak semua gula bekerja sama di dalam tubuh. Ada gula alami dari bahan makanan, ada pula gula bebas yang seringkali sebagai gula tambahan. Memahami perbedaannya penting agar bisa membatasi asupan gula pada anak sejak kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Definisi Gula Bebas
Gula bebas (free sugar) adalah gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman oleh produsen, juru masak, maupun konsumen. Gula yang terdapat dalam madu, sirup, bahkan jus buah juga termasuk dalam kategori ini. Menurut World Health Organization, gula bebas mencakup gula sederhana seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa yang berada di luar struktur alami bahan pangan.
Di sisi lain, ada gula alami yang terdapat pada buah utuh, sayuran, biji-bijian, dan susu. Pada makanan ini, gula berikatan bersama serat serta berbagai zat gizi lain sehingga proses penyerapannya di dalam tubuh berlangsung lebih lambat.
Perbedaan struktur ini membuat respons tubuh juga berbeda. Gula dari buah utuh dilepas secara bertahap sehingga kenaikan gula darah lebih terkendali dan rasa kenyang bertahan lebih lama. Sementara gula bebas dalam minuman manis atau makanan olahan dapat diserap lebih cepat sehingga kadar gula darah dapat meningkat dalam waktu singkat.
Batas Asupan Gula Bebas
European Society for Paediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) yang merekomendasikan agar asupan gula bebas pada anak tidak melebihi 5 persen dari total kebutuhan energi harian.
Sebagai gambaran, anak usia sekolah yang membutuhkan sekitar 1.600 kalori per hari sebaiknya mengonsumsi gula bebas tidak lebih dari sekitar 20 gram per hari, atau kira kira setara dengan empat sendok teh gula.
Jumlah ini sebenarnya mudah terlampaui. Satu botol minuman manis, sereal sarapan, atau camilan kemasan sering sudah mengandung gula dalam jumlah cukup tinggi. Tanpa disadari, beberapa makanan ringan dalam sehari saja bisa membuat asupan gula anak melewati batas yang dianjurkan.
Karena itu, informasi pada label pangan menjadi penting untuk membantu konsumen memahami kandungan gula dalam produk. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui rancangan aturan mengenai pencantuman Nutri-Level, yaitu sistem label yang menggambarkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada produk pangan olahan sehingga konsumen dapat lebih mudah mengenali kualitas gizinya.
Biasakan Sejak Dini
Kebiasaan makan anak banyak dibentuk oleh pengalaman makan pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Ketika sejak kecil anak terbiasa dengan makanan yang terlalu manis, lidahnya akan beradaptasi dan terus mencari rasa manis yang lebih kuat. Sebaliknya, anak yang sejak dini dikenalkan pada rasa alami dari bahan makanan cenderung lebih mudah menerima berbagai jenis makanan sehat.
Salah satu kebiasaan sederhana yang dapat membantu adalah memberikan buah dalam bentuk utuh dibandingkan jus buah. Buah utuh masih mempertahankan serat dan struktur alaminya sehingga proses pencernaan berlangsung lebih lambat.
Pada jus buah, sebagian besar serat sudah hilang. Kandungan gula dalam buah menjadi lebih mudah diserap oleh tubuh, bahkan dalam jumlah yang cukup besar karena satu gelas jus sering berasal dari beberapa buah sekaligus. Akibatnya asupan gula bisa meningkat tanpa memberikan rasa kenyang yang cukup lama.
Menghadirkan buah sebagai camilan harian dapat membantu anak mengenal rasa manis alami tanpa harus bergantung pada makanan atau minuman yang mengandung gula tambahan.
Dampak Bagi Anak
Konsumsi gula bebas yang berlebihan pada anak dapat memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat berkembang perlahan seiring waktu.
Pada sebagian anak, asupan gula yang tinggi sering dikaitkan dengan perubahan perilaku seperti energi yang melonjak sesaat lalu diikuti rasa lelah atau mudah rewel. Kondisi ini berkaitan dengan fluktuasi kadar gula darah setelah mengonsumsi makanan manis.
Sistem pencernaan juga dapat terpengaruh. Konsumsi gula berlebih dapat mengubah komposisi mikrobiota usus dan memicu ketidakseimbangan bakteri di saluran cerna. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi gula dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan pada anak.
Dampak yang paling terlihat adalah karies gigi. Bakteri di rongga mulut memanfaatkan gula sebagai sumber energi dan menghasilkan asam yang dapat merusak lapisan enamel gigi.
Dalam jangka panjang, konsumsi gula bebas yang tinggi juga berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas pada anak. Kondisi ini kemudian dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit metabolik seperti Diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular ketika anak beranjak dewasa.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)











































