Hampir Mustahil Lele Budidaya Diberi Pakan Jorok, Ini Alasannya

Kolom Gizi

Hampir Mustahil Lele Budidaya Diberi Pakan Jorok, Ini Alasannya

detikHealth
Minggu, 03 Mei 2026 12:02 WIB
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Ditulis oleh:
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Sarjana peternakan dari IPB University dengan peminatan pada nutrition and feed technology. Saat ini merupakan peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai penulis artikel gaya hidup
catfish pond using biofloc system. Raising and cultivating fish by using fish ponds made of round or circular tarpaulins that can maximize fish production with a narrow and limited production
Ilustrasi kolam lele. Foto: Getty Images/Anggi Dharma Prasetya
Jakarta -

Lele dikenal sebagai ikan yang mampu bertahan di berbagai kondisi lingkungan, termasuk perairan dengan kualitas yang kurang baik. Tapi tenang, budidaya lele saat ini dilakukan di lingkungan yang terkontrol, dengan pakan yang juga terjaga kualitasnya.

Dari mana bisa yakin lele budidaya tidak diberi pakan jorok? Dan bagaimana jika lele benar-benar dipelihara dalam lingkungan yang kotor dan tidak terkontrol? Apakah ikan tersebut tetap aman untuk dikonsumsi?

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan pangan, asal-usul dan cara budidaya ikan menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Lingkungan pemeliharaan dan jenis pakan yang diberikan berperan besar dalam menentukan kualitas serta keamanan lele yang sampai ke tangan konsumen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Pakan Jorok, Petani Malah Rugi

Dari sisi petani yang membudidayakan, memberi pakan jorok pada lele sebenarnya justru merugikan. Pakar budidaya perikanan dari IPB University, Dr Ir Cecilia Eny Indriastuti, M.Si menjelaskan pakar lele yang tidak terkontrol berhubungan erat dengan pencapaian target panen.

"Jika pakan lele tidak terkontrol maka target panen tidak tercapai dari pertumbuhan yang lambat, rentan terhadap penyakit, daging yang tidak hygienis, kemungkinan terpapar bakteri e-coli dan yang lain besar, sehingga merugikan petani," jelasnya saat dihubungi oleh detikcom, Kamis (23/04/2026).

Selain itu, kondisi lingkungan dalam budidaya ikan memegang peran penting terhadap kualitas dan keamanan produk. Berbagai kajian di bidang keamanan pangan dan akuakultur menunjukkan bahwa kualitas air, sanitasi kolam, serta jenis pakan sangat menentukan potensi kontaminasi pada ikan konsumsi.

Lingkungan yang tercemar, baik oleh limbah organik, bakteri, maupun bahan kimia, dapat menjadi media berkembangnya mikroorganisme patogen. Akibatnya, ikan lebih rentan membawa agen kontaminan yang berisiko jika tidak dikelola dengan baik.

Terkait hal ini, Cecilia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak dapat dibenarkan dari sisi keamanan pangan.

"Dari sisi keamanan pangan tidak dibenarkan. Pakan yang diberikan dan lingkungan yang kotor dapat menyebabkan kontaminasi baik secara kimia, biologi maupun fisika," ujar Cecilia.

Dengan kata lain, meskipun lele dikenal sebagai ikan yang adaptif, bukan berarti ia kebal terhadap dampak lingkungan yang buruk. Bagaimanapun, kondisi budidaya yang tidak higienis dapat meningkatkan risiko kontaminasi yang pada akhirnya berdampak pada konsumen.

Risiko Bakteri dan Dampaknya bagi Tubuh

Kontaminasi pada ikan yang dipelihara di lingkungan tidak higienis bukan sekadar kemungkinan, tetapi telah banyak dibuktikan dalam berbagai studi ilmiah. Sejumlah penelitian di bidang keamanan pangan menunjukkan bahwa ikan air tawar, termasuk lele, dapat terpapar bakteri patogen seperti Escherichia coli, Salmonella spp., hingga Aeromonas spp. ketika kualitas air dan sanitasi tidak terjaga.

Dalam beberapa studi mikrobiologi pangan, tingkat kontaminasi E. coli pada ikan dari perairan tercemar dilaporkan dapat mencapai lebih dari 30% sampel uji, sementara keberadaan Salmonella juga ditemukan meski dalam persentase yang lebih rendah. Bakteri-bakteri ini umumnya berasal dari limbah organik atau lingkungan yang terkontaminasi, dan dapat berpindah ke tubuh ikan selama proses pemeliharaan.

Jika dikonsumsi tanpa penanganan yang tepat, kontaminasi ini berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pencernaan, seperti diare, mual, hingga infeksi saluran cerna. Pada kondisi tertentu, terutama pada individu dengan daya tahan tubuh rendah, risiko infeksi bisa menjadi lebih serius.

Hal ini juga sejalan dengan penjelasan Cecilia yang menekankan adanya potensi risiko meski ikan tersebut telah menjadi daging konsumsi.

"Sebenarnya bisa saja dikonsumsi, karena sudah menjadi daging, namun dikhawatirkan daging tersebut terkontaminasi bakteri dan secara keamanan pangan tidak higienis," jelasnya.

Dengan demikian, penting untuk dipahami bahwa keamanan ikan konsumsi tidak hanya ditentukan oleh jenisnya, tetapi juga oleh bagaimana ikan tersebut dibudidayakan dan ditangani sebelum sampai ke konsumen.

Risiko Penyakit yang Bisa Muncul

Kondisi budidaya yang tidak higienis dapat memengaruhi kualitas ikan yang dikonsumsi. Dalam beberapa kasus, ikan yang terpapar lingkungan tercemar berpotensi membawa mikroorganisme yang tidak diinginkan, yang dapat berdampak pada kesehatan jika penanganannya kurang tepat.

Sejumlah bakteri yang umum ditemukan di perairan yang terkontaminasi, seperti Escherichia coli, Salmonella spp., dan Aeromonas spp., diketahui dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pencernaan. Dampaknya umumnya berupa keluhan seperti mual, diare, hingga infeksi saluran cerna, tergantung kondisi individu dan tingkat paparan.

Meski proses memasak dengan suhu yang cukup dapat menurunkan jumlah bakteri secara signifikan, langkah ini tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko, terutama jika ikan sudah terkontaminasi sejak awal atau penanganannya tidak higienis.

Agar lebih aman, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • memastikan ikan dimasak hingga matang sempurna (bukan setengah matang)
  • menghindari kontaminasi silang dari alat masak, tangan, atau bahan mentah
  • menjaga kebersihan selama proses penyimpanan dan pengolahan

Sejalan dengan itu, Cecilia mengingatkan bahwa aspek higiene tetap perlu diperhatikan sejak awal.

"Sebenarnya bisa saja dikonsumsi, karena sudah menjadi daging, namun dikhawatirkan daging tersebut terkontaminasi bakteri dan secara keamanan pangan tidak higienis," kata Cecilia.

Dengan demikian, proses memasak memang berperan penting dalam menurunkan risiko, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu. Keamanan pangan tetap sangat bergantung pada bagaimana ikan tersebut dibudidayakan, ditangani, dan diolah secara menyeluruh.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)
Bedah Gizi Super Lele
12 Konten
Bisa dibilang, lele termasuk sumber nutrisi paling 'underrated'. Di balik harganya yang bikin 'humble' pada penggemar, terkandung nutrisi yang disetarakan dengan salmon yang kelasnya lebih premium.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads