Masih banyak orang ragu mengonsumsi lele karena anggapan lama bahwa ikan ini hidup di lingkungan kotor dan "makan sembarangan". Kekhawatiran ini wajar, apalagi jika dikaitkan dengan keamanan pangan.
Namun, praktik budidaya lele saat ini sudah jauh berkembang. Lele umumnya dipelihara dalam sistem terkontrol dengan air bersih, pakan terstandar, serta dukungan teknologi. Artinya, kualitas lele yang beredar di pasaran sangat bergantung pada bagaimana ikan tersebut dibudidayakan.
"Anggapan tersebut sudah tidak relevan dengan kondisi budidaya saat ini. Budidaya saat ini lele dipelihara dengan menggunakan air bersih secara intensif dengan berbagai macam metode teknologi," ujar Dr Ir Cecilia Eny Indriastuti, M.Si, pakar budidaya perikanan dari IPB University.
Lalu, bagaimana sebenarnya lele yang sehat itu dibudidayakan? Apa saja faktor yang menentukan kualitasnya hingga aman dikonsumsi?
Budidaya Terkontrol dan Teknologi Jadi Penentu Kualitas
Keamanan lele yang dikonsumsi sangat ditentukan sejak tahap budidaya. Lingkungan pemeliharaan, kualitas air, hingga asal benih menjadi faktor penting yang memengaruhi hasil akhir.
"Dipelihara di wadah terkontrol, dari air sumber/ sumur atau mengalir, pemilihan benih unggul berkualitas, mengetahui asal usul induk, dipelihara dengan pakan yang berkecukupan nutrient sesuai kebutuhan lele, dengan penggunaan teknologi (probiotik, bioflok, Recirculating Aquaculture System)," jelas Cecilia saat dihubungi detikcom, Kamis (23/4/2026).
(fti/up)