Polling: Mana Sajakah yang Termasuk Ultra Processed Food?
Polling

Polling: Mana Sajakah yang Termasuk Ultra Processed Food?

Conserves of canned fish with different types of fish and seafood, opened and closed cans with Saury, mackerel, sprats, sardines, pilchard, squid, tuna,  over grey stone surface, top view space for text.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Ilia Nesolenyi
Jakarta -

Kesalahpahaman tentang konsep dan definisi Ultra Processed Food (UPF) berujung gaduh. Media sosial belakangan ini diramaikan oleh perdebatan apakah sarden kalengan termasuk UPF atau bukan.

Masalahnya makin rumit ketika pengelompokan tersebut serta merta dikaitkan dengan label 'sehat' dan 'tidak sehat'. Dari yang awalnya sarden kalengan dihindari karena dianggap UPF, mendadak banyak yang mengelu-alukan sebagai makanan sehat karena ternyata bukan UPF.

Kandungan natrium yang tinggi dan risiko kontaminasi BPA (Bisphenol A) dari pelapis kalengnya, yang beberapa waktu lalu bikin orang pikir-pikir untuk sering-sering mengonsumsi makanan kalengan, seketika terlupakan begitu saja setelah ada yang menyebutnya 'bukan UPF'.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, definisi UPF sendiri tidak selalu hitam-putih. Ada area abu-abu yang seringkali memang bisa diperdebatkan. Dan yang paling penting, label UPF hanya menunjukkan seberapa intens sebuah produk pangan mengalami pengolahan, tidak serta merta menunjukkan status 'sehat' dan 'tidak sehat'.

ADVERTISEMENT

Umumnya, real food memang lebih dianjurkan karena tidak ada bahan aditif/tambahan yang dalam takaran tertentu punya dampak bagi kesehatan. Namun dengan regulasi yang ketat, UPF tidak selalu berarti buruk seutuhnya. Begitupun, non UPF juga belum tentu semua sehat.

Ikuti Polling lainnya
Hide Ads