Ancaman Gula Berlebih di Balik Manfaat Probiotik

Kolom Gizi

Ancaman Gula Berlebih di Balik Manfaat Probiotik

detikHealth
Minggu, 14 Jun 2026 13:06 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Probiotik Tak Selalu dari Produk Tinggi Gula, Prebiotik Apalagi
Dilema kandungan gula dalam probiotik. Foto: iStock
Jakarta -

Probiotik telah lama dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat bagi kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus yang berperan dalam kesehatan pencernaan, sistem kekebalan tubuh, hingga proses metabolisme.

Popularitas probiotik juga mendorong munculnya berbagai produk minuman dan makanan yang mengusung klaim tersebut. Label probiotik identik dengan pilihan yang lebih sehat dibandingkan minuman manis biasa.

Namun, di balik manfaat yang ditawarkan, terdapat satu hal yang juga perlu diperhatikan, yaitu kandungan gula. Pada sejumlah produk minuman probiotik yang populer di pasaran, kandungan gula dapat mencapai sekitar 12 hingga 20 gram per 100 ml. Kondisi ini memunculkan dilema tersendiri. Di satu sisi, probiotik berpotensi mendukung kesehatan usus. Di sisi lain, konsumsi gula berlebih tetap berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai gangguan metabolik, termasuk diabetes.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Membandingkan Manfaat Probiotik Vs Ancaman Gula Berlebih

Manfaat probiotik bagi kesehatan usus telah didukung oleh banyak penelitian. Mikroorganisme ini membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, yaitu kumpulan bakteri yang hidup di dalam saluran pencernaan manusia.

Keseimbangan mikrobiota usus diketahui berhubungan dengan berbagai fungsi penting dalam tubuh. Selain membantu proses pencernaan dan penyerapan zat gizi, mikrobiota usus juga berperan dalam regulasi sistem kekebalan tubuh, produksi berbagai senyawa metabolik, hingga komunikasi antara usus dan otak.

Meski manfaat probiotik telah banyak didukung oleh penelitian, kandungan gula dalam produk probiotik tetap perlu mendapat perhatian yang sama besar. Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes, dr Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, mengingatkan bahwa konsumsi minuman probiotik tinggi gula tetap berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes.

"Meningkatkan risiko sih. Kita ada penelitiannya, komposisi minuman-minuman manis itu ya, meningkatkan risiko diabetes lebih tinggi," ujarnya saat ditemui detikcom di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).

Karena itu, perlu berhati-hati terhadap fenomena health halo effect, yaitu kecenderungan menilai suatu produk sehat hanya berdasarkan satu keunggulannya. Pada produk probiotik, manfaat bagi kesehatan pencernaan sering menjadi fokus utama, sehingga kandungan gizi lain seperti gula yang tinggi menjadi kurang diperhatikan. Padahal, manfaat probiotik dan kandungan gula merupakan dua informasi yang perlu dipertimbangkan secara bersamaan.

Kandungan Tinggi Gula, Kebutuhan Bakteri atau Cita Rasa?

Salah satu alasan yang sering dikemukakan untuk menjelaskan tingginya kandungan gula pada produk probiotik adalah sebagai sumber energi bakteri selama proses fermentasi.

Guru Besar Mikrobiologi Universitas Indonesia, Prof Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., PhD, menjelaskan bahwa gula memang dibutuhkan sebagai sumber energi bagi bakteri selama proses fermentasi berlangsung. Berbagai studi fermentasi menunjukkan konsentrasi gula sekitar 4 hingga 6 persen umumnya sudah cukup untuk menjaga viabilitas bakteri dan menghasilkan fermentasi yang optimal.

Viabilitas sendiri mengacu pada kemampuan bakteri untuk tetap hidup sejak proses produksi hingga akhirnya dikonsumsi. Hal ini penting karena menurut definisi FAO dan WHO, probiotik hanya dapat memberikan manfaat apabila dikonsumsi dalam keadaan hidup dan jumlah yang memadai.

Meski demikian, kadar gula yang tercantum pada label produk jadi tidak selalu mencerminkan kebutuhan bakteri tersebut. Menurut Prof Wellyzar, sebagian produk minuman susu fermentasi dapat memperoleh tambahan gula setelah proses fermentasi selesai.

"Ada produk minuman susu fermentasi yang mendapat penambahan gula pasca proses fermentasi untuk menyeimbangkan rasa asam yang dihasilkan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa produk probiotik pada akhirnya tetap harus dapat diterima konsumen dari sisi cita rasa.

"Ketika probiotik dihantarkan ke dalam pencernaan dalam bentuk makanan, maka rasa produk tersebut harus dapat diterima oleh yang mengonsumsinya."

Artinya, tidak semua gula yang terdapat dalam produk probiotik digunakan oleh bakteri selama proses fermentasi. Sebagian gula dapat ditambahkan untuk membantu menciptakan rasa yang disukai konsumen.

Bermanfaat Bagi Pencernaan, Tapi Berisiko Diabetes

Di sinilah letak dilema produk probiotik tinggi gula.

Di satu sisi, dapat memperoleh manfaat dari bakteri probiotik yang terkandung di dalam produk. Di sisi lain, tubuh tetap menerima asupan gula yang perlu diperhitungkan sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.

Gula yang berasal dari minuman probiotik tetap akan diproses tubuh sebagaimana gula dari minuman manis lainnya. Ketika dikonsumsi secara berlebihan dan berlangsung dalam jangka panjang, asupan gula yang tinggi dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan, resistensi insulin, dan peningkatan risiko diabetes.

Pada akhirnya, produk probiotik tinggi gula menghadirkan dua sisi yang perlu dilihat secara bersamaan. Manfaat probiotik bagi kesehatan usus memang nyata dan didukung oleh berbagai penelitian. Namun, kandungan gula yang tinggi juga tetap membawa konsekuensi kesehatan yang tidak bisa diabaikan.

Karena itu, keputusan mengonsumsi produk probiotik sebaiknya tidak hanya didasarkan pada manfaat yang ditawarkan, tetapi juga mempertimbangkan kandungan gula dan profil gizi secara keseluruhan. Membaca label informasi gizi dan memperhatikan jumlah gula per sajian dapat membantu konsumen memperoleh manfaat probiotik tanpa menambah asupan gula secara berlebihan.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)
Dilema Probiotik Tinggi Gula
5 Konten
Proses fermentasi dalam berbagai produk probiotik memang membutuhkan gula. Namun apakah benar semua gula yang ada dalam produk probiotik benar-benar dibutuhkan oleh bakteri, atau ada yang memang ditambahkan untuk kebutuhan memperbaiki cita rasa?
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads