Hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, temuan dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG), mencatat 1 dari 5 peserta diketahui mengalami hipertensi. Temuan ini menunjukkan bahwa hipertensi masih menjadi masalah kesehatan yang sering dijumpai.
Hipertensi sering dijuluki sebagai silent killer karena dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala. Banyak kasus baru diketahui setelah tekanan darah diukur atau ketika sudah muncul komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik itu, terdapat sejumlah kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari dapat meningkatkan risiko hipertensi.
1. Terlalu Sering Melewati Batas Anjuran Natrium Harian
Asupan natrium yang berlebihan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko hipertensi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menganjurkan konsumsi natrium kurang dari 2.000 mg per hari atau setara dengan sekitar satu sendok teh garam.
Batas tersebut sering terlampaui tanpa disadari karena natrium tidak hanya berasal dari garam dapur. Berbagai makanan seperti kecap manis, roti tawar, mi instan, bubur instan, sarden kalengan, saus, dan bumbu instan juga mengandung hidden sodium atau natrium. Ketika kombinasi beberapa makanan tersebut dikonsumsi dalam satu hari, total asupan natrium dapat dengan mudah melebihi anjuran harian.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Currrent Hypertension Report tahun 2024 menunjukkan bahwa konsumsi natrium yang melebihi kebutuhan tubuh berkaitan dengan meningkatnya risiko hipertensi, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.
2. Kurang Mengonsumsi Buah dan Sayur
Buah dan sayur merupakan sumber kalium yang membantu menjaga keseimbangan natrium di dalam tubuh. Mineral ini berperan membantu mengeluarkan kelebihan natrium melalui urine sekaligus membantu menjaga pembuluh darah tetap rileks.
Pola makan rendah buah dan sayur membuat asupan kalium ikut berkurang sehingga efek natrium terhadap tekanan darah menjadi lebih besar. Pedoman Gizi Seimbang juga menganjurkan konsumsi buah dan sayur setiap hari untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, serat, dan kalium.
Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan kaya buah dan sayur, terutama yang tinggi kalium, berhubungan dengan tekanan darah yang lebih rendah dan penurunan risiko hipertensi.
3. Minim Aktivitas Fisik
Kurangnya aktivitas fisik membuat jantung dan pembuluh darah bekerja kurang optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, terutama jika disertai kelebihan berat badan.
WHO merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu atau sekitar 30 menit per hari selama lima hari dalam seminggu. Jalan cepat, bersepeda, berenang, atau aktivitas rumah tangga yang melibatkan banyak gerakan dapat menjadi pilihan untuk memenuhi anjuran tersebut.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin mampu membantu menurunkan tekanan darah serta menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
4. Kurang Tidur
Tidur merupakan waktu bagi tubuh untuk memulihkan berbagai fungsi organ, termasuk sistem kardiovaskular. Durasi tidur yang terlalu pendek atau kualitas tidur yang buruk dapat mengganggu keseimbangan hormon dan meningkatkan aktivitas sistem saraf yang berperan dalam mengatur tekanan darah.
Kondisi tersebut membuat tekanan darah lebih sulit kembali ke kondisi normal, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.
Penelitian dalam jurnal Hypertension Research tahun 2024 menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan meningkatnya risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Simak Video "Video Wamenkes: CKG Jangkau 42,3 Juta Warga, 10% Terdeteksi Hipertensi"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)











































