Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo mengungkapkan dirinya berhasil menurunkan berat badan hingga 40 kg setelah tidak lagi menjabat Menpora. Hal tersebut diungkapkannya saat ditemui di gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).
Salah satu pola yang diterapkan Dito adalah membatasi asupan makan menjadi sekitar 800-1.000 kalori per hari. Selain itu, ia juga mengaku rutin berolahraga setiap hari dan membatasi konsumsi camilan.
"Saya balik ke pola zaman saya disiplin. Makan saya batasin maksimal 800-1.000 kalori per hari," kata Dito, dikutip detikNews.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Olahraga tiap hari. Camilan sangat minim. Kuncinya asupan gizi dan nahan lapar. Saya kan naik berat badan 2020-2023 hampir 50 kilogram. Naik 50 kilo, turun 40 kilo. Masih ada 10 kilo lagi," kata Dito.
Membatasi kalori harian dikenal sebagai low calorie diet atau diet rendah kalori. Dikutip dari VeryWellFit, pola makan ini dirancang dengan membatasi jumlah kalori yang dikonsumsi setiap hari.
Seseorang yang menjalani diet rendah kalori umumnya mengonsumsi sekitar 1.200 hingga 1.500 kalori per hari untuk menciptakan defisit kalori yang dapat membantu menurunkan berat badan. Meski efektif, diet ini sebaiknya dilakukan dengan pendampingan dokter atau ahli gizi agar asupan kalori tidak terlalu rendah dan kebutuhan zat gizi penting tetap terpenuhi.
Para ilmuwan telah meneliti diet rendah kalori sejak tahun 1980-an, termasuk untuk menguji klaim bahwa pola makan yang membatasi kalori dapat memperlambat proses penuaan.
Dalam konteks penurunan berat badan, prinsipnya cukup sederhana, yaitu mengonsumsi lebih sedikit kalori daripada yang dibakar tubuh sehingga berat badan dapat berkurang.
Namun, meski konsepnya sederhana, menjalani diet rendah kalori tidak selalu mudah. Dibutuhkan perencanaan yang baik untuk mengenali sinyal lapar, mengatur pola makan, serta memastikan asupan 1.200-1.500 kalori per hari tetap mampu memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi tubuh.
Diet rendah kalori juga tidak dianjurkan untuk semua orang, termasuk ibu hamil dan menyusui yang membutuhkan kalori lebih banyak untuk mendukung kesehatan diri dan tumbuh kembang bayi. Selain itu, atlet juga memerlukan asupan energi yang cukup untuk menunjang performa dan pemulihan tubuh, sehingga diet ini umumnya tidak direkomendasikan bagi mereka.
Simak Video "Video Mitos atau Fakta: Menahan Pipis Bisa Kena Kanker Ginjal?"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)











































