Benarkah Rutin Minum Teh Baik untuk Kesehatan? Ini Kata Pakar Harvard

Benarkah Rutin Minum Teh Baik untuk Kesehatan? Ini Kata Pakar Harvard

Elmy Tasya Khairally - detikHealth
Minggu, 09 Agu 2026 12:05 WIB
Pour green tea
Teh hijau. Foto: iStock
Jakarta -

Teh merupakan salah satu minuman paling populer di dunia. Minuman ini sarat akan makna budaya di banyak negara, sebagai simbol relaksasi, ketenangan, keramahan, hingga tradisi.

Teh juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan. Lantas, apakah teh benar-benar baik untuk kesehatan?

Apakah Teh Baik untuk Kesehatan?

Ada ratusan penelitian mengenai efek kesehatan dari teh, namun belum memberikan bukti yang benar-benar meyakinkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak penelitian dilakukan dalam skala kecil atau dalam waktu singkat. Sementara itu, sebagian besar penelitian tentang teh, bahkan yang berskala besar, bersifat observasional, hanya menilai hubungan antara konsumsi teh dan kesehatan, bukan hubungan sebab dan akibat.

Kendati demikian, menurut Ketua Departemen Nutrisi dan profesor nutrisi dan epidemiologi di Harvard TH Chan School of Public Health, Dr Frank Hu, secara keseluruhan, arah penelitian menunjukkan potensi manfaat.

ADVERTISEMENT

"Misalnya, katekin dalam teh hijau memiliki efek antioksidan dan anti-inflamasi yang tinggi pada model hewan dan studi tabung reaksi. Polifenol seperti quercetin dalam teh hitam memiliki efek anti-inflamasi yang serupa," katanya.

Bagaimana Teh Membantu Menjaga Kesehatan?

Penelitian menunjukkan bahwa sifat anti-inflamasi dan antioksidan teh dapat membantu menurunkan risiko penyakit kronis.

"Beberapa analisis terbaru menemukan bahwa konsumsi teh yang lebih tinggi, terutama teh hitam dan teh hijau, dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, diabetes, dan kematian dini," kata Dr Hu.

"Dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa minum teh dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental," tambahnya.

Analisis terhadap sejumlah penelitian yang melibatkan lebih dari 410.000 orang dan dipublikasikan di jurnal PeerJ pada 2023 menunjukkan bahwa kebiasaan minum teh berpotensi menurunkan risiko demensia hingga 29 persen.

Tak hanya itu, konsumsi teh juga dikaitkan dengan harapan hidup yang lebih panjang. Sebuah studi observasional yang diterbitkan dalam BMJ Open Diabetes Research & Care pada 2020 terhadap sekitar 5.000 orang di Jepang menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi empat cangkir teh hijau setiap hari memiliki risiko kematian dini 40 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak.

Selain kaya akan senyawa bermanfaat, teh juga mengandung kafein yang dapat membantu meningkatkan energi dan menjaga fokus mental.

Apa Saja Kandungan dalam Teh?

Tidak banyak vitamin atau nutrisi dalam teh, namun minuman ini kaya akan fitokimia, senyawa yang memberi karakteristik pada tumbuhan (seperti warna dan aroma) serta memberi efek farmakologis saat dikonsumsi. Fitokimia utama yang ada dalam teh adalah kafein dan polifenol.

Jumlah dan jenis fitokimia dalam teh bergantung pada bagaimana daun teh diproses. Misalnya, teh yang tidak teroksidasi mengandung kadar polifenol yang tinggi atau katekin. Sementara itu, teh yang teroksidasi sepenuhnya kaya akan polifenol yang disebut theaflavin dan thearubigin.

"Teh hijau memiliki lebih banyak polifenol daripada teh hitam, tetapi teh hitam memiliki lebih banyak kafein. Dan matcha adalah teh hijau kering yang digiling menjadi partikel halus. Konsentrasinya lebih tinggi-lebih tinggi kafein dan polifenol daripada teh hijau biasa," kata Dr Hu.

Berapa Banyak Teh yang Sebaiknya Diminum?

Menurut Dr Hu, manfaat teh diperoleh dengan minum 2-4 cangkir teh hijau, teh oolong, atau teh hitam setiap hari.

Kendati demikian, manfaat teh tidak selalu optimal. Jika teh ditambahkan banyak pemanis dan krim, asupan kalori, lemak, dan gula akan meningkat. Bagi seseorang yang mengidap insomnia atau memiliki detak jantung tidak teratur, kafein dalam teh bisa memicu gejala. Namun secara umum, teh merupakan bagian dari pola makan yang sehat.

"Dan teh memberikan kenyamanan," kata Dr Hu.

"Ada sesuatu tentang kenikmatan minum teh yang patut dipertimbangkan," lanjutnya.

Teh Boleh Diberikan ke Anak?

Spesialis gizi klinik dr Raissa E. Djuanda, MGizi, SpGK, AIFO-K, FINEM, mengatakan pemberian teh kepada anak bisa mengganggu penyerapan zat besi. Sebab, anak masih berada dalam masa tumbuh kembang sehingga berisiko lebih besar mengalami anemia.

"Teh mengandung senyawa bernama tanin. Tanin ini dapat mengikat zat besi dalam makanan yang kita konsumsi, sehingga penyerapan zat besi dalam tubuh kita menjadi kurang," ucap dr Raissa kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Sebenarnya tubuh anak dan orang dewasa memiliki respons yang sama terhadap kandungan tanin dalam teh. Namun, orang dewasa memiliki kondisi tubuh yang lebih matang, sedangkan anak lebih rentan mengalami anemia dan gangguan pertumbuhan.

"Hal ini juga berpengaruh terhadap kecerdasan IQ seorang anak. Selain itu, anak-anak yang kekurangan zat besi juga biasanya lebih mudah terserang penyakit karena daya tahan tubuhnya lebih rendah," jelas dr Raissa.

Namun, orang tua tidak perlu menghindari pemberian teh sepenuhnya. Menurut dr Raissa, teh masih bisa diberikan kepada anak asalkan tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan yang mengandung zat besi.

Teh bisa diberikan 1-2 jam setelah anak makan. dr Raissa menyarankan untuk memberikan teh yang tidak terlalu pekat atau teh yang kandungan taninnya lebih sedikit, seperti teh hijau.



(elk/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads