Abu Vulkanik Bisa Picu Stres Oksidatif, Ini Makanan yang Bantu Jaga Tubuh

Kolom Gizi

Abu Vulkanik Bisa Picu Stres Oksidatif, Ini Makanan yang Bantu Jaga Tubuh

detikHealth
Rabu, 09 Sep 2026 08:08 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Warga menunjukkan abu vulkanik di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Berdasarkan keterangan Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau embusan angin yang mengarah ke timur membawa material abu vulkanik tersebut hingga melanda daratan pesisi
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Jakarta -

Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebar ke udara merupakan partikel halus yang ikut terbawa angin dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, terutama ketika aktivitas tetap dilakukan di luar ruangan.

Partikel tersebut diketahui dapat memicu stres oksidatif dan respons inflamasi di dalam tubuh. Stres oksidatif terjadi ketika jumlah radikal bebas meningkat sehingga tubuh membutuhkan sistem pertahanan alami untuk menjaga keseimbangan sel.

Perlindungan utama tetap berusaha mengurangi paparan abu vulkanik. Menghindari aktivitas di luar ruangan saat abu pekat, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, serta menjaga kebersihan setelah terpapar menjadi langkah yang paling penting.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, dari sisi gizi ada hal lain yang juga dapat dilakukan, yakni memastikan tubuh memperoleh asupan zat gizi yang bersifat antioksidan.

1. Buah dan Sayur, Sumber Antioksidan

Saat membahas makanan untuk menghadapi paparan polusi atau partikel udara, buah dan sayur menjadi kelompok pangan yang paling sering muncul dalam berbagai penelitian.

ADVERTISEMENT

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients tahun 2026 menjelaskan bahwa pola makan kaya buah, sayur, serat, serta makanan dengan kualitas lemak yang baik berpotensi membantu tubuh menghadapi dampak biologis dari paparan polusi udara melalui mekanisme antioksidan dan pengaturan respons inflamasi.

Buah seperti jambu biji, jeruk, pepaya, kiwi hingga mangga menjadi sumber vitamin C yang baik. Sementara sayuran seperti brokoli, bayam, tomat, wortel dan kol menyediakan berbagai vitamin, mineral serta senyawa karotenoid yang turut mendukung sistem antioksidan tubuh.

2. Ikan, sumber omega-3

Ikan seperti kembung, sarden, tuna dan salmon mengandung asam lemak omega-3 berupa EPA dan DHA. Asam lemak memiliki peran dalam regulasi berbagai jalur inflamasi di dalam tubuh.

Sebuah studi ilmiah dalam jurnal PLOS ONE tahun 2024 menunjukkan bahwa omega-3 memberikan perlindungan terhadap gangguan fungsi paru akibat paparan polutan, meski bukti yang tersedia masih terbatas dan belum sepenuhnya konsisten pada seluruh penelitian.

Temuan tersebut menjadi alasan mengapa konsumsi ikan secara rutin tetap menarik untuk dimasukkan ke dalam pola makan sehat, terutama sebagai sumber protein sekaligus lemak sehat.

3. Pentingnya Pola Makan Sehat

Belakangan banyak muncul anggapan bahwa ada makanan tertentu yang dapat membersihkan paru-paru setelah terpapar abu atau asap. Klaim tersebut belum memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Justru penelitian terbaru menunjukkan bahwa kualitas pola makan secara keseluruhan jauh lebih berpengaruh dibandingkan mengandalkan satu jenis makanan saja.

Penelitian systematic review dan meta-analysis yang dipublikasikan dalam jurnal Advances in Nutrition tahun 2026 menemukan bahwa kepatuhan terhadap pola makan sehat berkaitan dengan melemahnya hubungan antara paparan particulate matter dan risiko berbagai penyakit kronis. Sebaliknya, pola makan yang didominasi minuman berpemanis dan pola makan tidak sehat berkaitan dengan dampak yang lebih buruk terhadap risiko penyakit terkait polusi udara.

Artinya, bukan satu buah, satu sayuran atau satu jenis minuman yang menjadi pelindung tubuh dari inflamasi. Yang lebih penting adalah membangun pola makan yang terdiri dari berbagai kelompok pangan bergizi secara konsisten.

4. Kacang-kacangan dan Biji-bijian

Sumber pangan nabati juga tidak kalah penting. Kacang-kacangan, tempe, tahu hingga biji-bijian mengandung protein, serat, lemak tidak jenuh, vitamin dan mineral yang membantu memenuhi kebutuhan gizi harian. Serat juga berperan dalam menjaga kesehatan mikrobiota usus yang kini semakin banyak dikaitkan dengan regulasi sistem imun dan inflamasi.

Karena itu, isi piring tidak harus selalu mahal. Kombinasi nasi, ikan atau tempe, sayuran hijau dan buah sudah menjadi menu yang kaya berbagai zat gizi penting.

5. Protein, Jaga Fungsi Tubuh Tetap Optimal

Tubuh tetap membutuhkan protein untuk menjalankan berbagai fungsi, termasuk mempertahankan dan memperbaiki jaringan serta mendukung fungsi sistem imun.

Sumber protein dapat berasal dari ikan, telur, ayam, daging, susu, tahu, tempe dan kacang-kacangan. Asupannya dapat dikombinasikan dengan sayuran, buah dan sumber karbohidrat kompleks agar kebutuhan zat gizi harian tetap terpenuhi.

Dalam kondisi kualitas udara yang terganggu, menjaga pola makan tetap beragam dan bergizi membantu memastikan tubuh mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi normalnya.

6. Cukupi Kebutuhan Cairan Tubuh

Paparan abu vulkanik sering membuat tenggorokan terasa kering dan tidak nyaman. Minum air yang cukup membantu menjaga hidrasi tubuh serta kelembapan saluran pernapasan bagian atas.

Meski demikian, air putih juga bukan berarti mampu mengeluarkan partikel abu yang sudah masuk ke paru-paru. Fungsinya tetap sebagai bagian dari menjaga kebutuhan cairan tubuh agar tetap optimal selama beraktivitas.

7. Peran Makanan Mendukung Tubuh

Makanan bergizi memang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan, termasuk mendukung sistem antioksidan dan membantu tubuh mengatur respons inflamasi. Namun, makanan tidak dapat menggantikan upaya pencegahan terhadap paparan abu vulkanik.

Jurnal Nutrients tahun 2026 bahkan menegaskan bahwa strategi paling efektif tetap berasal dari pengurangan paparan polusi, sedangkan pola makan sehat ditempatkan sebagai pendekatan pendukung yang membantu meningkatkan ketahanan tubuh secara biologis.

Jadi, ketika abu vulkanik menyebar, fokus utama tetap menghindari paparan langsung. Setelah itu, pastikan isi piring dipenuhi buah, sayur, ikan atau sumber protein lainnya, kacang-kacangan, tempe, tahu dan sumber karbohidrat yang seimbang agar kebutuhan zat gizi tubuh tetap tercukupi.



(mal/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads