Keinginan untuk menurunkan berat badan sering kali membuat seseorang mengambil langkah ekstrem. Salah satunya memangkas habis seluruh asupan gula dari menu harian.
Padahal, keputusan untuk 'nol gula' secara mendadak justru bisa berbahaya bagi kesehatan.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menegaskan bahwa menjalani diet untuk menurunkan berat badan bukan berarti harus menghentikan konsumsi gula sepenuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mau turun berat badan bukan berarti harus stop gula 100 persen, nggak ada gulanya sama sekali," tegas dr Yaze dalam live TikTok detikHealth, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, kesalahan fatal sering terjadi saat seseorang berniat mengurangi gula pasir. Tetapi, mereka malah keliru sehingga menghentikan semua jenis sumber karbohidrat dan gula alami.
"Kayak misalnya nasi dia setop juga, terus ubi juga nggak dimakan, habis itu buah-buahan juga nggak dimakan. Jadi akhirnya sumber karbohidratnya nggak ada, ya sudah pasti terjadi hipoglikemia," jelasnya.
Bahaya Hipoglikemia, Dari Lemot Sampai Pingsan
Kondisi hipoglikemia, yaitu penurunan kadar gula darah di bawah batas normal, terjadi saat tubuh dan otak kekurangan pasokan gizi utama. Dampaknya tidak bisa dianggap sepele.
"Karena kalau terjadi hipoglikemia itu bisa sampai pingsan tiba-tiba, karena kadar gula dalam darahnya tiba-tiba turun kurang dari normal," beber dr Yaze.
"Itu kan berarti otak kita jadi kekurangan oksigen, jadi kekurangan nutrisi. Jadi itu yang bikin jadi lemot, susah mikir, bahkan bisa sampai pingsan," tambah dia.
Agar diet tetap aman dan terhindar dari efek samping yang membahayakan, dr Yaze menyarankan untuk mengurangi konsumsi gula secara bertahap, bukan secara mendadak.
"Jadi bukan berarti nggak boleh sama sekali, bukan berarti langsung nol gula. Jadi tipsnya kalau mau ngurangin gula ya pelan-pelan. Dari 70 persen ke 50 persen, terus ke 30 persen," ungkapnya.










































