Tak Harus Maksa 'Clean Eating', Ini Tips Defisit Kalori Tanpa Nyiksa

Tak Harus Maksa 'Clean Eating', Ini Tips Defisit Kalori Tanpa Nyiksa

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Selasa, 22 Sep 2026 07:05 WIB
Ilustrasi defisit kalori
Foto: Getty Images/iStockphoto/juststock
Jakarta -

Menjalani program defisit kalori sering kali identik dengan pantangan ketat. Mulai dari menghindari olahan tepung, hingga wajib mengonsumsi makanan serba rebus.

Padahal, memangkas asupan karbohidrat secara ekstrem justru berpotensi memicu rasa lapar berlebih atau craving, hingga menggagalkan diet.

Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa tepung memang tergolong karbohidrat simpel yang memiliki kalori tinggi dan berpotensi memicu lonjakan indeks glikemik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indeks glikemik ini kalau misalnya terlalu spike (melonjak), habis itu dia anjlok, itu yang bikin kita craving. Makanya olahan tepung mulai dibatasi," kata dr Yaze dalam live TikTok detikHealth, Kamis (10/9/2026).

"Bukan berarti enggak boleh sama sekali, tapi dibatasi," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Trik Kurangi Gorengan Secara Bertahap

Bagi yang terbiasa mengonsumsi gorengan berbasis tepung seperti bakwan setiap hari, dr Yaze menekankan pentingnya melakukan perubahan secara bertahap. Melarang konsumsi tepung secara total secara mendadak justru dinilai tidak realistis bagi pemula.

"Jadi biasanya tips aku dikurangin dulu, kayak seminggu cuma boleh tiga kali makan gorengannya. Sisanya ya berarti sudah mulai belajar untuk mengurangi si tepung," Jelas dia.

Selain mengurangi frekuensi, kunci defisit kalori tanpa menyiksa adalah keseimbangan menu harian. Jika pada siang hari sudah mengonsumsi makanan berbahan dasar tepung atau gorengan, porsi makan malam sebaiknya diganti dengan olahan lain yang lebih rendah lemak.

"Misalnya siang sudah makan tepung banyak banget atau banyak makan gorengan, berarti nanti di malam jangan makan gorengan lagi. Mulai cari ikan pepes misalnya, atau tahu tempe bacem, atau sayur sop," terang dr Yaze.

Diet Nggak Harus Serba Rebus

dr Yaze mengingatkan bahwa mengubah pola hidup butuh penyesuaian. Menurutnya, diet yang berhasil bukanlah diet yang memantang semua jenis makanan hingga memicu lemas.

"Nggak perlu clean 100 persen juga makannya, nanti kamu pingsan juga. Karena diet itu bukan berarti kamu harus enggak makan nasi, atau harus makan rebus-rebusan, atau harus selalu dikukus, enggak juga," tegas dr Yaze.

Bagi pemula yang baru belajar menerapkan defisit kalori, menikmati makanan bertepung sesekali masih diperbolehkan selama porsinya tetap terkontrol.

"Jadi misalnya mau makan tepung sesekali, apalagi baru belajar lifestyle-nya diubah, enggak apa-apa, kita pelan-pelan saja untuk menggantinya. Nggak bisa langsung tiba-tiba enggak boleh sama sekali makan tepung atau nasi, yang ada nanti lemes, habis itu craving," pungkasnya.

Halaman 3 dari 2
(sao/naf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads