Sarapan Manis Vs Gurih, Mana yang Bikin Cepat Lapar dan Ngantuk?

Sarapan Manis Vs Gurih, Mana yang Bikin Cepat Lapar dan Ngantuk?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Sabtu, 26 Sep 2026 05:10 WIB
Sarapan Manis Vs Gurih, Mana yang Bikin Cepat Lapar dan Ngantuk?
Foto ilustrasi: Getty Images/PonyWang
Jakarta -

Kebiasaan memilih menu sarapan sering kali didasari oleh selera. Ada yang memilih makanan manis seperti roti berselai, atau yang gurih macam gorengan.

Ternyata, pemilihan sarapan juga menentukan bagaimana seseorang menjalani hari. Jika tidak cermat, menu sarapan yang keliru dapat bikin tubuh gampang ngantuk dan lapar kembali.

Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa menu sarapan manis seperti roti atau makanan olahan tepung yang diberi pemanis buatan dan selai cokelat masuk dalam kategori karbohidrat simpleks.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jenis makanan ini dapat memicu lonjakan gula darah secara drastis dalam waktu singkat, tetapi juga membuat tingkat gula darah merosot dengan cepat.

"Jadi si gula darahnya meningkat, melonjak dengan cepat tuh. Habis itu dia turun (drop). Itu yang bikin akhirnya jadi lapar lagi," jelas dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (24/9/2026).

ADVERTISEMENT

Lantas, apakah beralih ke sarapan gurih menjadi solusi yang lebih baik?

Menurut dr Yaze, hal tersebut sangat bergantung pada jenis makanan gurih yang dipilih. Jika menu gurih yang dimaksud adalah gorengan, dampak lain justru mengintai tubuh, yakni rasa kantuk dan lemas di pagi hari.

"Ya sama aja tuh, lemak juga yang kamu makan. Malah nanti ngantuk. Karena kan untuk mencerna lemak itu lebih lama dibandingkan mencerna kayak karbohidrat," paparnya.

Saat tubuh mencerna makanan tinggi lemak, pembuluh darah dan proses oksigenasi akan berfokus penuh ke saluran pencernaan. Proses inilah yang akhirnya membuat tubuh merasa lemas dan mengantuk setelah makan.

Lalu, Harus Pilih Menu Sarapan Apa?

dr Yaze menegaskan bahwa kunci sarapan yang tepat bukan sekadar memilih rasa manis atau asin atau gurih, melainkan memprioritaskan asupan protein dan serat terlebih dahulu, baru diikuti karbohidrat yang tepat.

Bagi yang sedang membiasakan diri mengurangi karbohidrat, porsi nasi bisa dibatasi menjadi 2-3 sendok makan, atau 5-6 sendok makan bagi yang baru mulai menyesuaikan. Sumber karbohidrat juga bisa diganti dengan jenis kompleks seperti ubi atau jagung rebus.

"Yang duluan dipilih itu adalah protein, serat, baru nanti misalnya karbonya dari ubi rebus atau jagung rebus, itu boleh juga. Jadi bukan pilih roti-rotian atau goreng-gorengan," tegasnya.

Untuk sumber protein, dr Yaze menyarankan konsumsi 2 butir telur di pagi hari. Namun, jika belum terbiasa, pilihan protein lain seperti daging ayam hingga ikan kembung tetap bisa menjadi alternatif yang baik.

Halaman 3 dari 2
(sao/dpy)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads