dr Sonia Wibisono, si Manja yang Berubah Peduli Saat Jadi Dokter

dr Sonia Wibisono, si Manja yang Berubah Peduli Saat Jadi Dokter

- detikHealth
Kamis, 23 Jun 2011 15:48 WIB
dr Sonia Wibisono, si Manja yang Berubah Peduli Saat Jadi Dokter
Jakarta - Saat kecil, dr Sonia Wibisono adalah putri yang selalu dimanjakan orangtua, sombong, tidak mudah berempati dan mudah menyalahkan orang lain. Tapi setelah masuk sekolah kedokteran, sifat tersebut perlahan sirna dan berubah menjadi lebih peduli dan sensitif terhadap orang lain.

dr Sonia Wibisono lahir dan dibesarkan dalam keluarga pasangan dokter yang hidup berkecukupan. Sejak kecil, ia selalu dimanjakan oleh orangtuanya. Orangtuanya sangat protektif dan membantunya mengerjakan segala sesuatu, termasuk hal-hal kecil sekalipun.

"Ditambah, aku selalu mendapat ranking di sekolah, menjadi anak yang sombong, tidak mudah berempati dan mudah menyalahkan orang lain. Namun, di sisi lain, aku pun dilatih untuk bekerja keras kalau ingin meraih sesuatu," tulis dr Sonia Wibisono, seperti dikutip dalam buku 'The Doctors' terbitan PT Bhuana Ilmu Populer, Kamis (23/6/2011).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, selama kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan praktik koass di RSCM Jakarta, ia banyak mendapatkan ilmu hidup, seperti lebih sensitif terhadap kemiskinan, kebersamaan dan kekeluargaan.

Ia banyak menjumpai pasien dengan berbagai macam jenis penyakit yang rata-rata diderita oleh mereka yang hidupnya sangat sederhana. Ini membuat hatinya lebih peka terhadap kondisi-kondisi seperti itu.

"Ada rasa ingin membantu dan rasa syukur berterima kasih kepada Tuhan akan kesehatan sempurna yang diberikan-Nya kepadaku. Karena dengan kesehatan yang aku punya itu aku berusaha semaksimal mungkin untuk membantu dan membahagiakan orang lain. Dengan membahagiakan orang lain, maka aku juga bahagia," tulis dr Sonia.

dr Sonia memang ingin menjadi dokter sejak kecil. Hal itu karena ia melihat kedua orangtuanya, Idrian wibisono dan Lina Wibisono, yang juga berprofesi sebagai dokter.

"Aku sangat antusias ketika mendengar Papa dan Mama berdiskusi tentang masalah kedokteran, obat dan penyakit. Itu adalah hal menarik yang menjadi perhatianku," tulis istri Robert Adhi Wardhana.

Ketertarikannya dengan masalah kesehatan manusia berlanjut saat duduk di kelas satu SMP Tarakanita V, Jakarta. Ia sangat menyukai pelajaran Biologi. Ketertarikan itu membuatnya mantap menentukan pilihan jurusan saat mendaftar UMPTN pada 1995. Ia pun memilih Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

"Selama kuliah di kampus, banyak sekali suka duka yang aku lalui. Di sini aku bertemu dengan teman dari seluruh penjuru Indonesia. Mereka adalah murid-murid pintar dari tiap kota di Indonesia yang berhasil lolos UMPTN. Banyak dari mereka yang hanya beruang saku Rp 5.000 per hari atau bahkan kurang. Sehingga mereka harus mengirit makan walaupun tugas yang harus kita kerjakan sangat berat di RSCM (sebagai rumah sakit praktik koass)," tulis dr Sonia.

Sekarang, setelah benar-benar meraih cita-citanya sejak kecil, yaitu menjadi dokter, ia tak bisa mengabaikan Tuhan yang telah membimbingnya dan harus bertanggung jawab pada apa yang telah menjadi pilihan hidupnya.

"Aku terngiang pesan Papa yang selalu mengingatkan aku untuk tidak mencari uang dengan menjadi seorang dokter. Katanya, dokter adalah profesi yang mulia. Hal yang utama adalah menolong sesama, bukan mengejar kepentingan pribadi (menumpuk kekayaan)," kata dr Sonia.

dr Sonia setuju hal itu. Itu memang salah satu isi sumpah dokter yang ia ucapkan ketika lulus kuliah pada Juni 2001. Setelah membaca sumpah itu, ia merasa beban yang akan ia emban cukup berat, tetapi sangat membahagiakan, terutama bisa membantu sesama di kala mereka mengalami kesusahan.

Baginya, menjadi dokter adalah kebahagiaan tersendiri dibandingkan profesi lain yang membantu manusia di saat mereka senang. Dokter membantu manusia di saat manusia itu mengalami gangguan pada tubuhnya meski ia harus mengorbankan kehidupan pribadi, hubungan dengan suami atau istri, hubungan pribadi dengan orangtua atau teman, untuk ditukar dengan pengabdian kepada pasiennya.

dr Sonia memberi contoh pengalaman yang dialami kakak kelasnya, dokter perempuan sebut saja bernama Fatimah. Ketika ia sedang jaga malam koass, dokter Fatimah juga sedang jaga malam sebagai seorang residen (dokter umum yang mengambil spesialisasi) bagian saraf.

Malam itu, dr Fatimah jaga dengan kondisi keletihan sehabis belajar semalam suntuk untuk menghadapi ujian. Jadi, paginya ujian, malam jaga dan paginya kuliah lagi.

"Sewaktu aku dan teman-teman sedang sibuk, tiba-tiba terdengar tangisan yang cukup keras. Itu adalah suara dr Fatimah. Ternyata, ia baru mendapat kabar bahwa anaknya telah meninggal dunia," tulis dr Sonia.

Kejadiannya cukup mengenaskan. Anak dr Fatimah yang masih bayi meninggal karena tersedak sebutir kacang saat sedang makan. Ketika itu bayinya ditinggal di rumah dan hanya dijaga oleh seorang baby sitter dan orangtuanya, sementara suaminya tengah dinas di luar kota.

Rasa sedih, menyesal dan kecewa tentu saja dirasakan oleh dr Fatimah. Karena pekerjaannya, ia tidak bisa punya waktu untuk menjaga bayinya sendiri sehingga terpaksa membayar baby sitter untuk menggantikan kewajibannya. Namun, mau bagaimana lagi. Itu semua dilakukan demi pengabdian kepada pasiennya.

Dari situlah dr Sonia mengaku bahwa dokter yang menyelamatkan orang banyak belum tentu bisa menyelamatkan keluarganya. Menjadi dokter terkadang harus mengorbankan kehidupan pribadi, hubungan dengan suami atau istri, hubungan pribadi dengan orangtua atau teman, untuk ditukar dengan pengabdian kepada pasiennya.



Biodata

Nama: dr. Sonia Wibisono
Tempat dan Tanggal Lahir: Jakarta, 11 Oktober 1977
Status: Menikah dengan Robert Adhi Wardhana, dengan 2 anak
Pendidikan:
SD Tarakanita I Jakarta (1983-1989)
SMP Tarakanita V Jakarta (1989-1992)
SMA St. Theresia Jakarta (1992-1995)
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1995-2001)
Pekerjaan: Dokter, pembawa acara



(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads