dr Ponco yang melakukan praktik di RSCM dan Rumah Sakit Asri Jakarta ini mengaku sangat menikmati proses mengoperasi pasien. Malahan jika lama tidak melakukan operasi, dr Ponco mengaku seperti ada sesuatu yang hilang.
"Ketika saya melanjutkan sekolah di Jerman, saya tidak melakukan operasi sama sekali. Itu seperti ada yang hilang, jadi seperti ada sesuatu yang dikangenin," kata dr Ponco saat ditemui detikHealth di RS Asri Jakarta pada 23 Juni 2011.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Ponco mengaku bercita-cita menjadi dokter sejak kelas 2 SD. Keinginan itu timbul karena melihat salah satu pamannya yang berprofesi sebagai dokter yang terlihat selalu siap menolong orang lain.
Saat kecil dr Ponco sebenarnya tertarik untuk menjadi dokter anak karena waktu kecil ia mengaku sering sakit-sakitan sehingga seringkali bertemu dengan dokter dan berpikiran sepertinya enak menjadi dokter anak.
"Tapi waktu masih belajar sekitar tahun 1995 saya menjadi koas untuk klinik anak, dan yang saya tidak tega melihat anak-anak yang lemas tergeletak dan harus dilakukan tindakan seperti disuntik atau apa. Saya nggak tega melihatnya," ujar dokter yang lahir di Bogor 38 tahun silam.
Setelah mendapat beasiswa bidang urologi dari Hannover Medical School tahun 2006-2009 dengan predikat Magna Cum Laude, dr Ponco melanjutkan keahliannya ke bidang andrologi. Alasannya bidang andrologi memberikan kesenangan tersendiri terutama ketika bisa membantu pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum memiliki anak.
"Ada pasangan yang sudah menikah 7 tahun belum bisa punya anak, dan Tuhan kasih kemampuan buat saya untuk menolong mereka. Belum lama ini juga ada pasangan yang berhasil hamil kembar 3, biasanya tidak sampai 3 karena buat mereka punya 1 anak aja sudah senang," ungkapnya.
Menjadi dokter menurutnya harus siap lahir batin menghabiskan waktunya untuk menolong orang. Sedangkan duka bagi seorang dokter adalah ketika ia sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tidak bisa menyelamatkan pasien karena terjadi komplikasi atau pasien meninggal dan harus menghadapi keluarga serta memberi mereka pengertian.
"Walaupun sebenarnya kita tidak boleh sedih juga, karena kita sudah berusaha semaksimal mungkin," ungkapnya.
Meski begitu dr Ponco mengaku sangat menyusukuri apa yang sudah dijalaninya saat ini, karena dengan menjadi dokter ia jadi bisa menolong orang lebih banyak lagi. Dan ketika pasien mengucapkan terimakasih dengan tulus, hal itu sudah membuatnya bahagia.
Pengalaman ketika pertama kali terjun di masyarakat saat masih menjadi koas juga memberikan pengalaman pribadi yang mendalam buat dr Ponco untuk memahami penderitaan pasien.
Saat menjalani koas tingkat 2 sekitar tahun 1992 atau 1993, ia bersama para koas lainnya melakukan kerja sosial di salah satu daerah di Bengkulu selama kurang lebih 1 minggu. Ketika itu di daerah-daerah di wilayah Bengkulu masih jarang sekali ditemukan dokter.
Masyarakat yang mendengar akan ada kerja sosial dari FKUI langsung mendatangi tempat tersebut. Salah satunya ada seorang warga yang sakit tifus, yang rela melakukan perjalanan selama 3 hari untuk mencapai tempat tersebut. Saat pasien itu datang untungnya para dokter cepat mendiagnosis karena gejalanya yang khas, akhirnya ia segera diobati dan dirujuk ke rumah sakit terdekat dan pasien bisa selamat.
Ada pula anak kecil yang datang ke tempat itu dalam kondisi luka bakar akibat tersiram air panas, ia harus menjalani perjalanan jauh untuk mencapai tempat tersebut dengan luka di tubuhnya.
"Padahal kita sudah ke daerah cukup pedalaman tapi ternyata masih ada juga masyarakat yang butuh perjalanan jauh untuk mencapai tempat tersebut. Hal itu yang bikin saya terenyuh," ujar dokter dari 3 putra ini.
Biodata
Nama: dr Ponco Birowo, SpU, PhD
Tempat dan Tanggal Lahir: Bogor, 5 November 1972
Status: Menikah dengan dr nenden Rosdiana dan dikaruniai 3 orang anak
Pendidikan:
Menamatkan Fakultas Kedokteran UI tahun 1997
Training residen Urologi di FKUI tahun 2000-2005
Fellowship doctoral di Departmen of Urology, Hannover Medical School tahun 2006-2009, lulus dengan predikat Magna Cum Laude
Pekerjaan: Dokter, staf pengajar sub-bagian Urologi di FKUI-RSCM
Organisasi: IDI (Ikatan Dokter Indonesia), IAUI (Ikatan Ahli Urologi Indonesia), European Society for Sexual Medicine, European Urological Association.
(ver/ir)











































