Selain Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, bisa dikatakan sebagian besar wilayah Indonesia adalah daerah terpencil. Namanya juga terpencil, jarang ada dokter yang sukarela mau bertugas di sana meskipun kebutuhannya cukup besar. Oleh karena itu, kemenkes membuat program dokter PTT (Pegawai Tidak tetap) bagi para dokter yang bersedia memenuhi kebutuhan tersebut.
Banyak pengalaman berharga yang bisa diperoleh dari tugas ke pelosok. Salah satunya adalah yang dialami oleh dr Ali Sungkar, SpOG. Dokter yang sehari-harinya bertugas mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini merupakan dokter PTT pertama yang ditempatkan di Timor Timur saat negara tersebut masih menjadi bagian NKRI.
“Saya bertugas di Timor Timur dari awal tahun 1992 sampai tahun 1995. Saya adalah dokter PTT yang pertama kali menetap di sana. Untuk mencapai tempat tugas, kita harus berjalan kaki 8 jam dari kabupaten sebab tempatnya ada di puncak gunung,” kenang dr Ali seperti dituturkan kepada detikHealth, Minggu (2/7/2012).
Selama bertugas di daerah yang terpencil ini, dr Ali mendapat pengalaman yang berharga. Ia menemui beberapa kasus kehamilan yang seharusnya ditangani oleh dokter spesialis kebidanan. Namun karena ia satu-satunya dokter yang ada, maka kasus tersebut mau tak mau harus ia tangani dengan segala kemampuan yang dipunya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sebagai dokter umum harus menangani kasus dokter spesialis. Ini yang bikin saya tertarik menekuni kebidanan, karena kita tidak punya bidan dan harus menolong orang melahirkan sendiri," kata dr Ali.
Dalam sebulan, dr Ali digaji sekitar empat ratus sekian ribu, sama seperti yang diperoleh oleh PNS ketika itu. Namun bedanya, dokter PTT tidak mendapat jatah beras dan hanya mengandalkan hidup dari gaji.
Untungnya, di tempatnya bertugas ketika itu para penduduk sering mengucapkan terima kasih dengan cara memberikan apa yang dipunya, misalnya jagung. Bahkan dr Ali pernah membantu ibu melahirkan dan hanya dibayar dengan 3 butir telur. Dr Ali mengakui bahwa bentuk kontribusi di daerah memang tidak bisa diukur dengan uang.
Selepas mengabdi sebagai dokter PTT selama 3 tahun, dr Ali meneruskan pendidikannya dengan spesialisasi kebidanan. Tak lama setelah menyelesaikan pendidikan spesialisnya, ia kembali ditugaskan ke daerah, yaitu di Sambas dan Putusibau, Kalimantan Barat.
Ketika di Sambas, dr Ali pernah membantu seorang ibu melahirkan tengah malam di tenda pengungsian. Saat itu memang Sambas tengah dilanda huru-hara pertikaian antar etnis. Bersama tim Kesgab (Kesehatan Gabungan), dr Ali mendapat banyak pengalaman berharga dan makin dekat dengan masyarakat yang mengalami kesulitan.
“Pengalaman bekerja di daerah itu pengalaman hidup yang tidak bisa dibeli. Itu yang membuat saya mengerti orang, terutama yang tidak mampu dan bagaimana mereka bisa survive,” tuturnya.
Keseriusan dr Ali dalam menekuni kebidanan ini tak lepas dari konsep yang ia pegang teguh mengenai kehamilan dan pengasuhan anak. Menurutnya, kebidanan tidak melulu membantu orang melahirkan bayi saja, namun juga berupaya meningkatkan kualitas bayi.
Kualitas bayi harus mulai dipersiapkan dari sebelum kehamilan, saat kehamilan dan hingga persalinan. Menurutnya, masyarakat harus menyadari bahwa bayi yang dilahirkan saat ini nantinya akan menjadi pemimpin untuk menentukan nasib generasi sekarang.
“Sadar nggak sih kita dengan konsekuensi melahirkan bayi dengan kualitas yang jelek, lahir dengan skizofren, angka bunuh dirinya tinggi, atau jadi pejabat yang korup? Itu karena kita yang sekarang melahirkan generasi tersebut,” kata dr Ali.
Dr Ali menegaskan, masyarakat harus menyadari bahwa mereka menginvestasikan hidupnya lewat generasi mendatang. Masyarakat, terutama yang bekerja di bidang kebidanan, harus berupaya membuat kondisi kehamilan dan persalinan lebih baik lagi agar generasi yang dihasilkan juga menjadi lebih baik.
“Kalau kita cuman sekedarnya saja, mungkin kita juga dapat generasi yang sekedarnya. Kalau anak kita lebih bodoh dari kita, kita turun dong generasinya. Anak kita harus lebih baik dari kita, itu prinsipnya,” tegasnya.
Tak hanya bidan dan profesional kebidanan, pemerintah juga bertanggung jawab dalam menginvestasikan masa depan. Dr Ali memberi contoh negara-negara Skandinavian yang memberikan cuti ibu melahirkan selama setahun. Cuti tersebut bukanlah hak ibu, melainkan hak anak agar terjamin kesehatannya dan memperkuat ikatan dengan orangtua.
Kebijakan yang diterapkan tersebut bukan bersifat maternalik, tetapi paternalik. Alasannya adalah karena yang dianggap bertanggungjawab terhadap perkembangan bayi bukan hanya ibu saja, melainkan kedua orangtua. Praktiknya, bapak punya hak cuti 3 bulan dan ditanggung negara 80%, sedangkan ibu punya hak cuti selama setahun. Jadi orangtua memiliki waktu 15 bulan untuk fokus mengasuh bayi.
“Selama waktu itu bapak juga harus ikut mengasuh anaknya. Itu artinya negara berinvestasi untuk generasi mendatang. Nah, kita punya upaya investasi seperti itu tidak?” tanya dr Ali.
Biodata
Nama: dr Ali Sungkar, SpOG
Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 29 September 1966
Pendidikan:
Pendidikan Dokter FKUI (1991)
Pendidikan Obstetri dan Ginekologi FKUI (1999)
Doktor Bidang Ilmu Kedokteran FKUI (2011)
Pekerjaan:
Staf pengajar Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI – RSCM
Manager Pengembangan & Pelayanan Sistem Informasi FKUI (2004 – 2008)
Praktik:
Divisi Fetomaternal RS Cipto Mangunkusumo
RS Pondok Indah
RS Brawijaya
Organisasi:
Ketua Pokja Infeksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI)
Ketua Bidang Kesehatan Ibu, Anak dan Keluarga Berencana Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
(pah/ir)











































