Senin, 15 Apr 2013 08:35 WIB

Doctor's Life

dr Benny Ardjil, Psikiater yang Pernah Didatangi Pasien Berparang

- detikHealth
dr Benny Ardjil, SpKJ (Foto: Herni/detikHealth)
Jakarta - Keinginan menjadi dokter biasanya dilatarbelakangi oleh keluarga yang juga berprofesi sebagai dokter. Namun Benny Ardjil bercita-cita menjadi dokter lantaran dulu masih sedikit bidang pekerjaan yang menjadi pilihan. Akhirnya spesialis kedokteran jiwa pun berhasil digondolnya.

"Saya bukan berasal dari keluarga dokter, tapi dari kecil saya bercita-cita sebagai dokter. Mungkin karena dulu pilihan profesi tidak terlalu banyak tak seperti sekarang. Dulu yang menonjol cuma dokter, sarjana hukum, dan insinyur," ujar dr Benny Ardjil Sp.KJ seperti ditulis detikHealth, Senin (15/4/2013).

Sebelum menjadi psikiater, pensiunan Kepala Pusat Terapi dan Rehabilitasi BNN sempat mengalami kendala dalam membantu pasiennya. Sebab, ada penyakit yang ia diagnosa namun tak tampak tanda-tanda kelainannya. Di samping itu, ia juga menceritakan saat pendidikan dokter, pelajaran tentang kejiwaaannya hanya sedikit. Hal inilah yang memperkuat keinginan Benny muda menjadi spesialis kedokteran jiwa.

"Waktu saya di puskesmas, saya melihat banyak orang-orang yang tidak bisa saya bantu. Banyak pasien yang mengeluh kakinya itu panas, pusing-pusing, nggak bisa tidur. Dengan cara-cara biasa dan diperiksa dengan cara dokter kok tidak ada, saya tidak tahu mau diapakan, lalu saya pikir mungkin ini jiwanya nih," kisahnya.

Sebagai dokter inpres yang pernah dikirim mantan Presiden Soeharto ke wilayah Aceh, dr Benny kebingungan mengobati pasien. Karena itu merupakan penyakit yang didorong oleh masalah mental. Ada beragam kondisi pasien yang ditemui dr Benny, misalnya ada yang kerap komat-kamit sendiri dan ada juga yang kondisinya gembira sekali.

"Dulu saat saya masih bujang, saya minta tolong untuk dibelikan minyak goreng, saya kasih pagi tapi nanti datangnya malam. Itulah gangguan kejiwaan yang berat. Satu waktu dia nggak muncul-muncul, saya bertemu bapaknya dan saya datangi rumahnya ternyata dia sedang menyendiri. Itu bertolak belakang dengan yang biasa saya lihat," tutur dr Benny.

Kadang pasien gangguan jiwa merasa senang, kadang hanya diam dan menyendiri. Sama seperti penyakit pada umumnya, tingkat gangguan jiwa ada yang teringan hingga terberat.

Mantan Direktur RSJ Bandar Lampung ini menjelaskan bahwa gangguan kejiwaan seperti itu disebut dengan gangguan jiwa bipolar yaitu perubahan suasana hati yang ekstrem. Gangguan ini berisiko menyebabkan bunuh diri dan mengganggu kehidupan penderitanya.

Tentunya dengan menjadi dokter spesialis kedokteran jiwa, dr Benny paham betul bagaimana rasanya berhubungan dengan pasien gangguan jiwa. Bahkan ia mengaku dirinya pernah diganggu dan bahkan diancam oleh pasiennya sendiri.

"Mereka itu kan sebenarnya bukan mau menjahati kita. Pernah di suatu kampung, ada orang dengan gangguan kejiwaan membawa parang mengejar-ngejar orang dan semua tutup pintu rumah. Karena saya sedang praktik kan pintu dibuka, lalu masuklah dia. Saat itu saya sendirian. Lalu saya tanya, ada apa? Kesal ya," kenangnya

dr Benny juga membagi pengalamannya dalam menghadapi orang dengan gangguan kejiwaan yaitu dengan bersikap tenang dan tidak panik. Karena menurutnya orang seperti itu sebenarnya dalam keadaan ketakutan dan mencari orang sebagai tempat berpegang. Penanganan gangguan jiwa pun harus dilakukan secara tepat supaya pasien tidak menjadi agresif.

Ada dua macam cara dalam menangani pasien yang menderita gangguan jiwa, yakni dengan farmakoterapi yang biasa digunakan oleh dokter dengan memberikan obat pada pasien gangguan jiwa. Yang kedua adalah terapi yang berbentuk konseling atau konsultasi yang di dalamnya memberikan alternatif bagi penderita gangguan jiwa.

BIODATA

Nama Lengkap:
Dr Benny Ardjil Sp.KJ

Tempat dan Tanggal lahir:
15 Januari 1951

Pendidikan Formal:
Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjajaran, Bandung
Spesialis Kesehatan Jiwa (Psikiater) Universitas Indonesia

Pengalaman Pekerjaan:
Direktur RSJ Lampung (10 Tahun)
Direktur RSJ Pontianak (6 Tahun)
Kepala Pusat Terapi dan Rehabilitasi BNN

Praktik:
Rumah Sakit Jiwa Bandung


(hrn/vit)