Dulunya, dr Melly sering menulis artikel di beberapa media tentang anak dan kesehatan. Pada tahun 1994, ia mendadak diminta salah satu media untuk menulis tentang autisme. Karena saat itu autis belum berkembang, dr Melly pun menyetujuinya. Untuk menulis artikel, dr Melly lebih banyak menggunakan teori-teori lam, termasuk dalam menjelaskan gejala autis.
"Sejak itu mulailah orang tua pada datang bawa anaknya dan bilang'Ddok kok anak saya ini gejalanya sama seperti yang dokter tulis'. Itu nambah terus sampai saya bilang kok banyak ini anak dengan autisme," kata dr Melly di sela-sela acara kampanye peduli autisme Autismaze di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, seperti ditulis Senin (30/9/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalu mereka mengatakan berapa sih pasien autis kamu, punya nggak yayasan atau asosiasi autis. Kenapa kamu nggak mendirikan supaya bisa berhubungan dengan asosiasi autisme di negara lain. Itu yang bilang professor Bernard Rimlan, pendiri Autism Society of America,” cerita dr Melly.
Ketika kembali ke Indonesia, dr Melly pun mengajak beberapa dokter untuk bergabung dengannya membuat yayasan autisma, tapi sayangnya banyak dari mereka yang enggan. Akhirnya, ada empat dokter yang mau bergabung. dr Melly juga mengajak para orang tua dengan anak autis.
"Dari lima dokter itu ada yang psikiatri anak, kepala konsultan di RS Harapan Kita, ahli saraf anak, sama dokter anak yang kebetulan anaknya autis. Jumlahnya sama orang tua jadi 13 orang," kata dr Melly.
Tahun 1997 akhirnya berdirilah Yayasan Autisme Indonesia. Kemudian, dr Melly dan 12 pendiri YAI lainnya memutuskan untuk mengadakan seminar.
"Pertama kali itu penuh sekali. Sejak itu kita adakan lagi seminar ternyata banyak sekali, makin lama makin meningkat. Waktu itu orang tua bingung apa yang harus dilakukan, itu penyakit apa, menular atau enggak karena belum banyak informasinya,” cerita lulusan FKUI ini.
Tak jarang, menurut dr Melly, banyak juga anak dengan autisme yang dikucilkan, tidak boleh bermain dengan anak lain, atau tidak diterima di sekolah umum. Kejadian yang kerap dialami anak autis seperti di-bully atau dikucilkan memang diakui dr Melly sering terjadi.
"Jadi YAI terus melakukan kampanye untuk terus memberi penjelasan ke masyarakat bahwa autisme itu bukan apa-apa, bukan penyakit menular, ini hanya gangguan perkembangan saja, jadi terus menerus kita ngomong di radio, TV, nulis di media, keliling Indonesia mengadakan seminar, selama 16 tahun itu terus kita lakukan," papar dokter yang akrab disapa oma ini.
Di dalam workshop yang digelar, biasanya peserta yang kebanyakan adalah orang tua akan diberi apa saja terapi yang bisa dilakukan untuk anak autis dan semua jenis terapi itu bersumber dari studi pustaka. Maka dari itu dr Melly dan timnya terus melakukan workshop untuk orang tua agar mereka tidak hanya sekadar meratapi keadaan tapi juga bisa menerapi anaknya di rumah.
Selain terapi, ada beberapa anak autis yang memang harus dibantu dengan obat. Tujuannya untuk merangsang pemahaman si anak sehingga kemampuannya bisa timbul dan terapi pun bisa lebih cepat terserap. Obat biasanya diberikan ke anak-anak yang hiperaktif, agresif, dan sulit tidur. Lalu, sebenarnya apakah faktor yang bisa menyebabkan anak mengalami spectrum autisme ini?
"Faktor gen ada akan tetapi kalau itu faktor genetik kenapa sekarang makin banyak. Memang genetik ada, tapi tidak sehebat itu. Sekarang yang lebih berperan faktor lingkungan," jelas dr Melly.
Menurutnya, kondisi lingkungan sekarang sudah kotor, banyak polusi yang bisa menghasilkan timbal sehingga banyak anak-anak yang setelah ia menghirup timbal dari udara dia tidak bisa mengeluarkan lagi dan itu bisa merusak tubuhnya.
"Lalu anak-anak makan ikan laut supaya pintar, padahal laut itu udah kotor, malah yang ada terkena merkuri dan itu merupakan racun yang paling kuat merusak otak. Makanan anak-anak seperti zat warna, pengawet, perasa, itu zat kimia dan merusak," lanjut dokter bertubuh langsing dan tinggi ini.
"Kalau ibunya saat hamil banyak makan ikan laut yang mengandung merkuri dan itu mengalir ke darah, kena ke janin dia sudah teracuni dari kandungan. Knalpot saja sekarang banyak timbal. Kalau gennya anak itu kuat kondisinya kuat nggak apa-apa dia bisa mengeluarkan racun itu lagi," imbuhnya.
dr Melly menegaskan bahwa autis harus terdiagnosis sebelum umur tiga tahun. Jika gejala itu timbul setelah umur empat atau lima tahun menurut dr Melly anak tersebut bukan autis. Terkait dengan jumlah anak autis di Indonesia, dr Melly mengatakan belum ada data yang pasti.
Namun ia mengatakan, "Dulu saja sebelum tahun 1994, tahun 80-an, saya sudah praktik psikiatri anak pasien autis yang datang ke saya paling setahun dua atau tiga. Sekarang kalau tidak dibatasim pasien baru bisa tiga dalam sehari. Bahkan pasien baru saya bisa ngantri sampai tahun depan," kata dr Melly.
Hal yang paling dikhawatirkan dr Melly adalah kini mulai menjamur pusat terapi untuk anak autis tapi dengan tujuan komersial. Berbeda dengan YAI yang mempunyai misi ingin membantu anak-anak autis, masyarakat, dan pemerintah. Lalu, kepuasan apa yang dirasakan dr Melly saat ia berhasil menangani anak yang autis?
"Kepuasan itu sangat terasa ketika si anak ini bisa sekolah sampai di fakultas atau lulus dari sarjana, itu kepuasan tersendiri bagi saya dan membanggakan pastinya. Maka dari itu, sekarang ini anak autis yang bisa pulih itu banyak. Sekarang kan lebih canggih, misal darah, rambut, semua bisa diperiksa di laboratorium kalau ada kelainan makanya diperbaiki," papar dr Melly.
Sementara itu, waktu pemulihan bagi anak-anak autis memang diakui dr Melly tak bisa dipukul rata, tergantung berat ringannya kondis si anak. Jika terlampau berat, bisanya anak akan sulit bicara dan proses terapi pun akan lebih sulit.
"Terapi kalau enggak bisa bicara ya kita beri terapi bicara, kalau perilakunya jelek kita terapi dengan terapi perilaku biar lebih baik. Itu ada caranya sendiri-sendiri," pungkasnya.
Biodata
Nama: dr Melly Budhiman, SpKJ
Pendidikan :
-Pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran UI.
-Pendidikan spesialis sebagai psikiater di Fakultas Kedokteran UI.
-Memperdalam psikiatri anak di Honolulu, University of Hawaii.
Pekerjaan:
-Saat ini praktik di RS MMC Kuningan, Jakarta Selatan dan RS Omni Medical Centre Pulomas, Jakarta.
-Menjadi ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI)
(/up)










































