Selasa, 09 Agu 2016 11:28 WIB

Soal Penyakit Tidak Menular, Menkes Singgung Kurangnya Konsumsi Buah dan Sayur

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Menkes Nila (Foto: Radian Nyi S)
Jakarta - PTM menjadi 3 penyebab utama kematian di Indonesia. Stroke menyebabkan kematian sebanyak 21,1 persen, jantung koroner 12,9 persen, dan diabetes melitus 6,7 persen. Demikian disebutkan data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014.

Menyoroti hal ini, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan dasar dari PTM adalah perilaku masyarakat. Sayangnya, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013) menunjukkan 93,5 persen penduduk di atas usia 10 tahun kurang makan sayur dan buah.

"Kita negara tropis harusnya kita bisa mengisi kebutuhan buah dan sayur. Tapi sering kita ditegur ahli nutrisi karena kita makan sayur dan buahnya dikit sekali. Terutama pada anak-anak," kata Menkes Nila dalam dialog interaktif bersama para bupatri di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, Selasa (9/8/2016).

Ia menambahkan, konsumsi buah dan sayur menandakan bagaimana masyarakat harus hidup sehat. Untuk itu, kini digalakkan kembali Germas alias Gerakan Masyarakat Sehat.

"Dulu kita ribut dengan penyakit cacar, tapi dengan vaksin sekarang cacar sudah hilang. Sekarang kita hampir end game polio dan penyakit menular lain. Walaupun begitu, ada pergeseran pada PTM seperti jantung, kanker, gagal ginjal," sambung Menkes Nila.

Baca juga: Konsumsi Buah dan Sayuran di Indonesia Masih Rendah

Ia juga menyebut faktor risiko PTM lain yaitu merokok di mana 36,3 persen penduduk usia di atas 15 tahun dan perempuan di atas usia 10 tahun di Indonesia sudah merokok. Kemudian, kurangnya aktivitas fisik yang hanya dilakukan 26,1 persen masyarakat, serta 4,6 persen penduduk di atas usia 10 tahun yang mengonsumsi alkohol.

PTM ini pastinya berdampak pada pembiayaan negara, aplagi kini sudah diterapkan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Data subdit P2PTM Kemenkes menyebutkan beban ekonomi negara akibat penyakit katastropik di tahun 2015, yakni BPJS menanggung biaya Rp 6,9 Triliun untuk penyakit janrung. Sementara, penyakit kardiovaskular termasuk stroke dan gagal ginjal di mana butuh prosedur cuci darah, jika terus dilakukan menelan biaya hampir Rp 2,7 triliun.

"Saya ingat dr Maya (Direktur Pelayanan BPJS-red) mengatakan tiap bulan ada 2 ribu pasien gagal ginjal baru. Ada apa dengan masyarakat kita? Belum biaya untuk kanker, thalassemia, dan penyakit lain. Ini perlu diperhatikan. Biaya BPJS kan terbatas karena ini prinsipnya asuransi gotong royong," kata Menkes Nila.

Menkes juga menyoroti data BPJS di mana proporsi pasien rawat inap sebesar 80 persen sedangkan rawat jalan 20 persen. "Ini kan nggak bener. Harusnya ditukar dan kalau bisa jumlah yang dirawat inap kita kurangi 10 persen," kata Menkes Nila.

Untuk itu, sejalan dengan Nawacita ke-5 yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, maka Kemenkes menggeser upaya kuratif menjadi upaya promotif dan preventif. Kemudian, diimplementasikan pula Program Indonesia Sehat dengan 3 pilar yakni paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dengan sistem rujukan dan pendekatan keluarga yang sehat, dan JKN sebagai 'pembungkus' kesehatan agar terus berlanjut.

Baca juga: Tantangan Makan Siang Tanpa Nasi untuk Cegah Kegemukan, Siapa Mau Coba?

(rdn/vit)