Kamis, 10 Jun 2010 12:35 WIB

Mitos Seputar Lemah Syahwat (1)

- detikHealth
Jakarta - Pria seringkali menerima informasi yang salah tentang persoalan lemah syahwat atau disfungsi ereksi (impotensi) dan secara sembunyi mencari penyebab serta upaya penyembuhannya.

Memahami kenyataan tentang disfungsi ereksi adalah komponen penting dalam upaya menghilangkan hambatan untuk mencari kesembuhan, karena banyak hal yang selama ini menjadi mitos disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi adalah kondisi dimana pria tidak dapat mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang optimal untuk mencapai performa atau kepuasan seksual.

Jika dulu masalah disfungsi ereksi tabu untuk dibicarakan, tetapi kini pria semakin mau berdiskusi dan mencari solusi terapi pengobatannya.

Survei kesehatan seksual telah dilakukan terhadap pria dan wanita di Asia Pasifik pada bulan Mei sampai Juli 2008. Survei Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness (AP SHOW) dilakukan di 13 negara terhadap 2016 pria dan 1941 wanita, di Indonesia sendiri dilakukan pada 578 pria dan wanita.

Seperti dilansir dari AP SHOW Global Survey, Kamis (10/6/2010), berikut beberapa mitos seputar disfungsi ereksi:

1. Mitos: Kesulitan ereksi adalah hilangnya ketertarikan seks, atau kehilangan tenaga atau mandul

Fakta: Sebagian pria dengan kesulitan ereksi masih memiliki gairah dan keinginan untuk mendapat orgasme, dan mengalami ejakulasi cairan semen. Kesulitan ereksi terkait dengan kemampuan membuat atau mempertahankan ereksi dan tidak berarti kehilangan keinginan dalam seksual atau menjadi mandul.

2. Mitos: Pria ingin selalu, dan selalu siap untuk melakukan hubungan seksual

Fakta
: Pria selalu siap, mampu dan bisa melakukan hubungan seksual tidak sesederhana tampaknya. Dalam kehidupan nyata, kelelahan fisik atau berpikir keras mengenai pekerjaan dan keluarga bisa mempengaruhi gairah pria dan kegiatan seksualnya.

3. Mitos: 'Pria Sejati' tidak mengalami kesulitan ereksi

Fakta
: Banyak pria pada suatu waktu dalam kehidupannya akan mengalami kesulitan ereksi atau mempertahannya. Hal ini dapat muncul seiring petambahan usia, ras atau etnis, perilaku budaya dan kebiasaan serta keyakinannya. Sesekali memiliki kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi bukan merupakan masalah. Tetapi jika persoalan ini terus berlanjut, maka akan mempengaruhi hubungan pribadi dan menjadi masalah bersama dengan pasangan.

4. Mitos: Kesulitan ereksi adalah masalah pribadi

Fakta
: Disfungsi ereksi sesungguhnya sering terjadi pada siapapun. Menurut American Medical Association, 10 persen dari pria mengalami disfungsi ereksi yang menetap. Sebagai tambahan, ada sejumlah pria yang tidak mengalami disfungsi ereksi ternyata mengalami ereksi yang suboptimal.

5. Mitos: Disfungsi ereksi adalah lumrah dalam proses penuaan

Fakta
: Disfungsi ereksi tidak harus dianggap sebagai hal yang normal untuk semua pria usia berapapun. Sekalipun mungkin pria yang lebih senior membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa terangsang dan mungkin membutuhkan stimulasi fisik.

Sekalipun disfungsi ereksi kerap terjadi pada pria usia tua, tetapi bukan berarti disfungsi ereksi adalah proses dari penuaan. Bagaimanapun, disfungsi ereksi juga kerap terjadi pada pria yang berusia muda.

Perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok, berolahraga secara teratur, menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan, dan berada dalam pengawasan penyakit kronis seperti gagal ginjal, penyakit jantung atau diabetes dapat menurunkan risiko pria mengalami disfungsi ereksi.

(mer/ir)