Biodanza atau disebut juga dengan dance of life ini adalah salah satu teknik intervensi terbaru dari ilmu psikologi yang ditemukan oleh Rolando Toro dari Cile pada tahun 1960.
Dalam biodanza ini beberapa orang berkumpul di dalam satu ruangan dan melakukan gerakan tari yang menyenangkan sehingga bisa membuat peserta menjadi lebih rileks. Selain itu dalam biodanza peserta seperti kembali ke masa anak-anak yang mana sedang bermain-main.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerakan yang dilakukan ini dimulai dengan gerakan ringan yang nantinya meningkat lebih cepat, seperti pada gerakan kuda binal yang menuntut peserta untuk bergerak lebih aktif.
Setelah gerakan cepat peserta dirangsang melalui sentuhan, pada fase ini peserta diminta menutup mata dan mendapatkan sentuhan dari pasangan, tak jarang beberapa peserta merasakan emosi yang kadang membuatnya hampir menangis.
Melalui aktivitas fisik yang menyenangkan membuat peserta lebih merasa rileks dan bahagia. Serta pendekatan ini membuat orang lebih mudah mengekspresikan diri sehingga dapat mencegah stres.
"Dalam biodanza ada kekuatan kelompok, kekuatan tari atau gerak dan juga musik," ujar Psikolog Rustika Thamrin, Psi yang mengembangkan School of Empathy Indonesia dalam acara Mini Talkshow Biodanza di Rempah Wangi, Jakarta dan ditulis Rabu (21/11/2012).
Psikolog Tika mengungkapkan teknik biodanza ini juga pernah diterapkan pada anak SMA 70 dan SMA 6, karena biodanza dapat mengurangi masalah remaja seperti tawuran dan bullying melalui cinta dan kasih sayang.
Selain itu pada tahun 1998 dilakukan studi dengan melibatkan 150 orang yang melakukan 10 sesi biodanza dan yoga dan mengukur pengaturan emosi, kesehatan, psikologi, respons kulit, tekanan darah dan imunological dengan mengukur IgA.
"Hasilnya untuk short term kadar IgA meningkat signifikan baik pada peserta biodanza maupun yoga, tapi untuk long term yang melakukan 10 sesi maka efek dari biodanza untuk imunitas menjadi lebih kuat," ungkapnya.
Biodanza sendiri sudah masuk ke Indonesia pada tahun 2010 setelah terjadi bencana Merapi di Yogyakarta. Beberapa terapis dan Profesor Dr Marcus Stueck dari Universitas Leipzig di Jerman datang membantu menghilangkan trauma dari korban letusan Gunung Merapi yang selamat dengan biodanza.
Serta dalam biodanza ini juga diperlukan interaksi kelompok sehingga mengurangi sifat individualistis yang bisa mengikis rasa empati, dan juga membantu seseorang terkoneksi atau terhubung dengan dirinya sendiri, orang lain dan alam.
(ver/)











































