Suci, seorang ibu berusia 26 tahun sedang mengandung anak kedua. Padahal, kalau dihitung dari usia kandungannya yang menginjak enam bulan, jarak usia antara Rafi si sulung yang kini berusia 1,3 tahun dengan si jabang bayi hanya sekitar enam bulan.
Suci sendiri mengakui bahwa kehamilan keduanya ini di luar rencana. Dia dan suaminya baru berencana memberikan adik, setelah si sulung berusia dua atau tiga tahun. "Memang di luar rencana tetapi kita sih prinsipnya kalau dikasih sekarang ya monggo saja," tutur Suci sambil tersenyum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rafi sendiri sebenarnya belum memahami bahwa ia akan mendapat seorang adik. "Tetapi sepertinya dia sudah punya insting, deh. Soalnya Rafi sekarang jadi senang cari perhatian," ujar Suci.
Rafi, ungkap dia, sekarang sering ngotot minta diajak main oleh bundanya. Bahkan sifat cemburunya pun mulai kentara. "Dia jadi sering minta gendong. Dan karena perutku yang makin membesar aku kadang suka menolak," ia melanjutkan.
Adik Baru (Bukan) Sumber Masalah
Menurut psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Muhammad Rizal, Psi, kondisi Suci tersebut belum tentu akan menimbulkan masalah. Walaupun, ia menilai bahwa rentang usia enam bulan relatif mepet.
Anak-anak kecil, seusia Rafi, ujar Rizal, umumnya tidak akan merespons secara dramatis dengan rencana kedatangan adik bayi yang baru. Sebab, anak-anak yang masih berumur kurang dari dua tahun biasanya belum memiliki rasa benci, marah, atau cemburu. "Kalaupun sudah ada, belum kuat," imbuh psikolog yang akrab dipanggil Ical ini.
Dengan kondisi di atas, Ical menegaskan bahwa adik bayi yang akan lahir sebenarnya bukanlah sumber masalah. "Sumber masalah yang sesungguhnya adalah orangtua itu sendiri," tegasnya.
Kakak-Adik Ikut Terkena Dampak
Banyak yang menganggap bahwa kehadiran adik baru pasti akan membuat si sulung tersisih. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu, lho. Menurut Rizal, baik adik baru maupun si kakak bisa sama-sama menjadi 'korban' jika bundanya tidak dapat membagi waktu dengan baik.
Kehadiran anggota keluarga baru bisa membuat ibu menjadi lebih rentan capek. Dan dalam kondisi seperti ini, sangat mungkin si ibu tidak dapat memberikan cukup perhatian, seperti yang dibutuhkan oleh kedua anaknya. "Persoalannya akan bertambah rumit jika kedua anaknya masih membutuhkan emotional bonding yang kuat dari ibunya," tutur Ical.
Rentang Usia yang Ideal
Secara normatif, ia menuturkan, sebenarnya tidak ada aturan baku terkait waktu paling pas bagi si ibu untuk kembali mengandung. Kesiapan menyangkut hal tersebut sangat tergantung pada kondisi fisik dan emosi ibu. Ketika anak pertamanya dirasa tidak lagi membutuhkan perhatian yang besar pun, itu bisa menjadi acuan untuk memberikan 'hadiah' bagi si sulung.
Tetapi, kalau memang secara fisik dan emosi, si ibu merasa siap menimang anak lagi walaupun ia belum lama melahirkan, tentu tidak jadi masalah. Meski demikian, tutur Ical, kalau dilihat dari sisi psikologis anak, umumnya anak mulai menginginkan teman bermain ketika usianya menginjak tiga tahun. "Biasanya di umur-umur segini, mereka ingin memiliki adik untuk menjadi teman bermain," katanya.
Tetapi sekali lagi, Ical menambahkan, hal itu pun belum tentu berlaku sama untuk anak-anak lainnya. Sebab, bisa saja, meski si kakak belum genap tiga tahun, ia sudah ingin punya adik karena merasa kesepian. Atau bisa juga karena dia memiliki banyak teman di luar rumah, ketika pulang ia merasa butuh teman bermain juga.
Ayo, Ayah Ikut Turun Tangan
Hal terpenting yang dibutuhkan ketika adik baru akan datang adalah kemampuan si ibu untuk membagi waktu dengan anak-anaknya. Dia harus mampu membagi waktu antara mengurus anak-anak dengan pekerjaan lainnya.
Para ayah jangan lantas senang dulu karena itu bukan berarti ayah bisa lepas tangan. Ical mengatakan, para ayah juga harus banyak melibatkan diri dalam pengasuhan anak. “Jangan hanya ibu saja yang repot. Kalau kedua anak-anaknya nangis, kan tidak mungkin kalau dua-duanya harus digendong oleh ibu. Coba ayahnya juga ikut membantu,” paparnya.
Kehadiran anggota keluarga baru sudah pasti menambah pekerjaan orangtua, terutama ibu. Dalam hal ini, waktu istirahat ibu sangat mungkin akan berkurang. Walaupun harus memerhatikan anak-anaknya, bukan berarti kesehatan ibu boleh diabaikan.
Kalau Anda merasa sulit mencari waktu istirahat, jika memungkinkan, coba deh ikuti jam istirahat anak. "Jadi ketika anaknya tidur, ibunya juga ikut istirahat. Jangan malah melakukan aktivitas lain, misalnya mencuci piring atau menyapu," terang Ical.
Kenalkan Si Sulung Pada Adik Bayi Sedini Mungkin
Ketika si kakak sudah berada dalam usia mengerti akan kehadiran adik baru, ibu juga ayah harus mengenalkan calon anggota baru itu sedini mungkin. "Misalnya, ibu mengajak si kakak bicara dengan adiknya yang masih dalam perut. Halo, dik ini ada kakak datang mau ngobrol sama adik," Ical mencontohkan.
Ajak si kakak untuk mengelus perut ibu dan Anda bisa menjelaskan kalau adik bayi akan menjadi anggota keluarga yang baru. Bisa juga, ketika Anda sedang membeli keperluan bayi, minta kepada kakaknya untuk memilihkan baju yang lucu. "Contoh-contoh ini akan membuat si kakak merasa memiliki peranan sebagai seorang kakak. Sehingga begitu adik baru muncul, ia tidak perlu merasa tersisih," terangnya.
Ahli tumbuh kembang anak di Amerika Serikat, Freshteh Farahan memberikan beberapa trik lain untuk membantu si sulung beradaptasi dengan kehadiran adik barunya.
- Sekali-kali ajak si sulung menemani Anda ketika pergi kontrol ke dokter kandungan.
- Saat Anda sedang di-USG, minta si sulung untuk mendekat dan melihat hasilnya. Minta juga ia menempelkan telinga ke perut Anda untuk mendengar detak jantung calon adiknya.
- Ketika proses persalinan tiba, kondisikan agar si sulung dapat menunjukkan peranannya sebagai seoarang kakak.
- Misalnya, kalau si sulung sudah cukup umur, minta ia membantu menyiapkan kebutuhan pakaian Anda untuk di rumah sakit nanti.
(Baca artikel lainnya di http://www.inspiredkidsmagazine.com)
(ver/ver)











































