Guling Butut Si Kecil

Guling Butut Si Kecil

- detikHealth
Jumat, 28 Agu 2009 15:58 WIB
Guling Butut Si Kecil
Jakarta - Kalau bisa berteriak mungkin si guling butut minta dilepaskan. Tapi jika orangtua minta dilepaskan si kecil malah semakin sayang sama gulingnya. Jadilah meski gulingnya sudah penyek, warnanya pudar atau ada bekas air liur tetap menjadi teman setianya.

Anda atau anak Anda mungkin pernah punya pengalaman serupa. Memiliki barang kesayangan seperti guling, bantal, boneka ataupun barang lainnya yang dielus-elus sejak balita mungkin hingga dewasa. Bahkan banyak cerita masih ada perempuan dewasa yang tidak bisa tidur jika tak memeluk guling atau benda kesayangan bututnya.

Normalkah perilaku seperti itu?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Psikolog anak dan remaja dari Klinik Kancil Tia Rahmania mengatakan, saat anak masih kecil atau berusia kurang dari 5 tahun kebutuhan intinya adalah sandang, pangan, papan dan kasih sayang. Kasih sayang itu juga meliputi rasa nyaman seorang anak. Jika anak tidak mendapatkan rasa nyaman yang dibutuhkannya maka anak akan mencari kompensasi lain berupa barang-barang tertentu.

"Jika dengan kepemilikan barang tersebut membuat anak bisa belajar menjaga suatu barang maka hal ini masih wajar, tapi kalau sudah berlebihan dalam arti tidak boleh dicuci, dijemur atau tidak bisa lepas dari barang tersebut, hal ini sudah tidak wajar lagi," ujar Tia Rahmania, MPsi dari klinik Kancil saat dihubungi detikhealth, Jumat (28/8/2009).

Rahmania menambahkan selama batas tersebut tidak mengganggu, seperti masih boleh dicuci atau dijemur, maka boleh-boleh saja seorang anak memiliki barang kesayangan. Tapi jika tidak boleh diapa-apakan, maka orang tua harus bisa mengambil langkah untuk mengatasinya.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh orang tua jika anaknya tidak bisa dilepaskan dari barang kesayangan tersebut, yaitu:

  1. Cobalah dibujuk secara halus. Gunakan kata-kata persuasif kepada anak, atau diberi bujukan dan iming-iming tertentu jika anak berhasil melewati hari tanpa barang itu. Sehingga anak tidak tergantung lagi dengan barang kesayangannya.
  2. Orang tua menyembunyikan barang kesayangan tersebut. Saat masa transisi itulah orang tua sangat berperan besar untuk bisa menggantikan rasa nyaman yang hilang dari barang itu.
  3. Anak dicoba untuk dialihkan ke hal-hal yang lain, misalnya menemaninya setiap malam, membacakan dongeng sebelum tidur, memberinya pelukan hangat atau bisa juga dengan permainan tertentu yang bisa membuat anak merasa nyaman dan aman.
  4. Berilah kata-kata positif atau pujian kepada anak. Misalnya "Kalau anak pintar tidak perlu tergantung pada satu barang" dan sering-seringlah memberikan pujian kepada anak.

Jika cara-cara tersebut tidak berhasil membuat anak lepas dari barang kesayangannya itu, orang tua bisa berkonsultasi kepada psikolog.

"Anak akan mengikuti apa yang dirasakan atau dilakukan oleh orang tuanya, jika orang tua merasa putus asa maka anak akan putus asa juga," ujar lulusan Master psikologi Universitas Indonesia ini.

Rahmania menyarankan agar orang tua harus konsisten, pada masa transisi itulah orang tua harus menularkan perasaan tenang ke anak. Orang tua harus bisa membuat anak merasa nyaman, sehingga anak tidak perlu mencari kompensasi berupa barang-barang kesayangan tersebut. Hal yang harus diingat oleh orang tua adalah agar selalu menjaga emosi dan kata-kata yang dikeluarkanya untuk anak.

Rekomendasi Obat


img

Biovision Kids

www.matabiovision.com
(ver/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads