Demikian dituturkan oleh Tjandra Yoga Aditama, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Lingkungan pada acara Peringatan Hari Pneumonia Dunia di Gedung FK UNPAD Baru Jl Eijkman 38, Senin (2/11/2009).
Lebih lanjut Tjandra menuturkan bila pneumonia adalah jenis penyakit mematikan yang kurang terkenal jika dibandingkan HIV, malaria ataupun TBC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peringatan Hari Pneumonia di Indonesia dilakukan dengan menyelenggarakan seminar "Fight Pneumonia-Save a Child".
"Dengan seminar ini kami berharap kesadaran pemerintah dan masyarakat akan bahaya penyakit ini bisa ditekan dan akhirnya menurunkan angka kematian bayi," ujar Tjandra.
Pneumonia adalah penyakit radang infeksi akut yang mengenai paru-paru. Disebabkan oleh kuman dan jamur.
"Penanganan terhadap penyakit ini akan dilakukan dengan tiga metode yaitu proteksi, pencegahan dan terapi. Dalam seminar ini kami akan menggodok agar perawatan Pneumonia yang banyak terjadi pada anak-anak bisa tersosialisasi dengan baik," tandas Tjandra.
Sebagian besar kasus Pneumonia di dunia berawal dari batuk yang menyerang anak-anak. Seperti dituturkan oleh dr Cissy S Prawira, Kepala Divisi Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad.
"Banyak masyarakat awam yang tidak menganggap serius batuk pada anak-anak. Ini yang menyebabkan Pneumonia banyak menyerang anak-anak," ujar Cissy.
Lebih lanjut Cissy menuturkan bila anak batuk dan tidak kunjung sembuh meski sudah mengonsumsi obat batuk, orang tua sebaiknya langsung memeriksakan anaknya ke dokter anak atau penyakit dalam.
"Jika batuknya sudah diiringi nafas yang berat sebaiknya langsung dibawa saja," ujar Cissy.
Untuk mencegah Pneumonia, ada empat macam imunisasi yang memegang peranan penting yaitu DPT, Campak, Haemophilus Influenzae dan Pneumokok.
"Dua imunisasi pertama sudah masuk ke Program Pengembangan Imunisasi kita, hanya dua imunisasi lagi masih sulit terjangkau masyarakat karena tarifnya yang cukup mahal,"imbuh Cissy.
Cissy menambahkan, keengganan ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi dan balita juga membuka peluang anak terserang Pneumonia.
"Kalau ibu tidak memberikan ASI eksklusif maka bayi hingga balita berusia dua tahunan akan sangat rentan terkena penyakit ini," tutup Cissy.












































