"Penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa hubungan antara lemak tubuh dan waktu pubertas memiliki pengaruh yang berbeda antara anak laki-laki dan anak perempuan," ujar Dr Joyce M.Lee, ahli endokrinologi pediatrik di University of Michigan, seperti dikutip dari HealthDay, Rabu (3/2/2010).
Dr Lee menuturkan meningkatnya kadar lemak tubuh atau kegemukan akan membuat anak laki-laki mengalami keterlambatan puber. Tapi hal berbeda terjadi pada anak perempuan, karena anak perempuan yang mengalami kelebihan berat badan akan mengalami puber lebih cepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak laki-laki ini lahir pada tahun 1991 serta berat dan tinggi badannya tercatat mulai dari usia 2 hingga 12 tahun oleh National Institute of Child Health and Human Development Study of Early Child Care and Youth Development.
Berdasarkan data berat dan tinggi badan yang dihubungkan dengan nilai indeks massa tubuh (BMI), didapatkan sebanyak 14 persen anak laki-laki yang memiliki nilai BMI tinggi mengalami keterlambatan pubertas. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam edisi Februari Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine.
Saat ini anak-anak yang mengalami obesitas semakin meningkat jumlahnya dibandingkan beberapa tahun lalu. Dr Lee menambahkan penting untuk dipahami bahwa kelebihan lemak dalam tubuh anak-anak dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya.
"Penelitian tambahan diperlukan untuk menyelidiki lebih lanjut hubungan antara jumlah lemak dengan perkembangan pubertas pada anak laki-laki serta faktor fisiologis apa yang bertanggung jawab untuk hal ini," ungkapnya.
Anak yang mengalami obesitas memiliki berbagai faktor risiko kesehatan, selain itu juga membuat anak menjadi tidak leluasa untuk beraktivitas.
Padahal masa anak-anak adalah waktu yang tepat bagi anak untuk melakukan berbagai aktivitas yang dapat menunjang pertumbuhannya. Karena itu usahakan anak memiliki berat badan yang ideal dan nilai BMI sedang.
(ver/ir)











































