Diperkirakan lebih dari 20 persen anak sering membenturkan kepala dengan tujuan tertentu, dalam hal ini anak laki-laki lebih sering dibandingkan dengan anak perempuan.
Membenturkan kepala biasanya mencapai puncaknya saat si kecil berusia 1,5-2 tahun dan kebiasaan ini bisa berlangsung beberapa bulan atau hingga anak tersebut tumbuh besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai bentuk rasa nyaman bagi dirinya sendiri.
Hal ini mungkin terdengar aneh, tapi kebanyakan anak menikmati kebiasaannya ini. Biasanya anak membenturkan kepalanya dengan berirama sesaat sebelum tertidur.
Untuk mengurangi rasa sakit
Saat anak merasa sakit misalnya akibat proses tumbuh gigi atau infeksi telinga, maka dengan membenturkan kepalanya anak akan merasa lebih baik serta untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa tidak nyaman yang dialaminya.
Sebagai bentuk frustasi anak
Jika anak membenturkan kepalanya selama ia merasa marah, maka ada kemungkinan ia melakukannya untuk melampiaskan emosi yang kuat. Hal ini disebabkan anak-anak belum mampu untuk mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata, sehingga ia menggunakan tindakan fisik.
Sebagai bentuk untuk mendapatkan perhatian
Cara ini terkadang menjadi metode bagi anak untuk mendapatkan perhatian, karena anak berpikir orangtua akan merasa cemas jika ia melakukan sesuatu yang dapat melukai dirinya sendiri.
Adanya gangguan pada masalah perkembangannya
Terkadang kebiasaan membenturkan kepala bisa menajdi gejala awal dari autisme atau gangguan perkembangan lainnya. Tentunya jika kebiasaan ini diikuti dengan gangguan perilaku lainnya.
Jika si kecil suka melakukan kebiasaan buruk ini, maka sebaiknya orangtua mengetahui apa alasan anak melakukannya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua terhadap anaknya, yaitu:
Berilah perhatian pada anak, tapi saat ia tidak membenturkan kepalanya
Pastikan anak mendapatkan banyak perhatian positif saat ia tidak membenturkan kepalanya. Jika ia masih melakukannya untuk mendapatkan perhatian orangtuanya, maka cobalah untuk mengabaikan perilaku tersebut sehingga anak berpikir cara tersebut bukanlah metode yang baik untuk mendapatkan perhatian orang lain. Serta tidak memarahi atau menghukumnya karena akan membuat keadaan bertambah buruk.
Melindungi anak dari cedera
Orangtua harus memastikan bahwa anak tidak akan mengalami cedera saat membenturkan kepalanya, misalnya dengan menempatkan karpet pada kaki tempat tidur atau menggantungkan kain lembut dan selimut.
Bantulah anak untuk menemukan irama lain yang lebih positif
Anak-anak terkadang menemukan irama yang stabil saat sedang membenturkan kepalanya, karena itu cobalah untuk mengajarkan irama lain seperti menari, bertepuk tangan atau memainkan alat musik misalnya drum. Jika anak memiliki banyak kegiatan fisik, maka anak tidak akan memikirkan untuk membenturkan kepalanya.
Bantulah anak merasa nyaman
Jika si kecil melakukan kebiasaan ini karena merasa tidak nyaman akibat sakit atau yang lainnya, buatlah suasana yang nyaman atau bisa mengurangi rasa sakitnya. Misalnya dengan mengajaknya berbicara untuk mengetahui apa yang sedang dirasakannya atau membantu mengompres untuk mengurangi rasa sakitnya.
Konsultasikan dengan dokter jika sudah mulai mengkhawatirkan
Jika anak terus membenturkan kepalanya saat siang hari meskipun hal ini menyakiti dirinya, maka kemungkinan ada hal lain yang menjadi pemicunya. Karena kondisi ini seringkali dikaitkan dengan autisme atau gangguan perkembangan lain, terutama jika diikuti dengan gejala lain.
Anak-anak autis umumnya sulit untuk bersosialisasi, misalnya tidak menoleh saat dipanggil atau menghindari kontak mata dengan orang lain. Selain itu jika anak mengalami keterlambatan dalam tahap perkembangan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.
(ver/ir)











































