Ketua IBI, Dra Harni Koesno mengakui memang tidak mudah bagi para bidan untuk menyukseskan program ASI (Air Susu Ibu) eksklusif terutama di daerah-daerah pelosok. Infratruktur dan fasilitas yang kurang memadai dinilainya sebagai kendala paling utama.
Harni mengatakan jumlah tenaga kesehatan seperti dokter dan bidan, serta sarana kesehatan bagi ibu dan bayi, masih minim. Kebanyakan tenaga serta sarana tesebut hanya tersedia di wilayah perkotaan dan belum menjangkau hingga daerah pelosok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak mudah melakukan usaha tersebut, melihat Indonesia memiliki tantangan berupa kondisi geografis, budaya, sosial, serta ekonomi," kata Harni dalam siaran pers yang diterima detikHealth, Selasa (7/12/2010).
Peran pemerintah dalam menyediakan fasilitas dinilai masih sangat kurang meski saat ini Peraturan Pemerintah (RPP) tentang ASI Eksklusif tengah dirancang. Bahkan Harni menilai, RPP tersebut malah menggiring isu susu formula sehingga mendiskreditkan peran para bidan.
Bidan sebagai alat utama dalam membantu kelahiran justru dituduh sebagai agen promosi dan distribusi susu formula untuk menggantikan ASI. Padahal kenyataannya, hal itu terpaksa dilakukan karena kurangnya fasilitas.
"Dari pada menuduh yang tidak benar, lebih baik mereka ikut memikirkan pembangunan infrastruktur pendukung program ASI eksklusif yang merata dan murah, salah satunya melalui klinik laktasi" tambah Harni.
IBI menilai tuduhan tersebut telah mengabaikan adanya kode etik profesi bidan yang telah mengatur dengan ketat seluruh bidan sebagai tenaga profesional yang terdidik. (up/ir)











































