Peneliti yang melakukan studi tersebut mengungkapkan bahwa susu sapi 4 kali lebih asin dibandingkan dengan ASI (Air Susu Ibu). Jika susu sapi ini diberikan pada bayi yang belum mencapai usia 1 tahun, maka ia cenderung memiliki pola makan yang tinggi garam.
Hasil studi ini dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition dengan melibatkan hampir 1.200 bayi yang berusia 8 bulan pada tahun 1991-1992. Dr Pauline Emmet dan Vicky Cribb, ahli gizi dari Bristol University menemukan 7 dari 10 bayi memiliki kadar garam yang tinggi dalam pola makannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika bayi mengonsumsi 700 ml susu sapi, maka ia mendapatkan asupan garam sebesar 385 mg. Hal ini hampir setengah dari asupan maksimum yang disarankan untuk bayi berusia 1 tahun yaitu sebesar 1 gram.
"Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi garam perlu dikurangi secara substantial pada anak-anak kelompok usia ini. Bayi membutuhkan makanan khusus yang dibuat tanpa mengandung garam," ujar peneliti, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (2/8/2011).
Para peneliti memberikan nasihat bagi semua orangtua atau pengasuh untuk tidak menggunakan susu sapi sebagai minuman utama sebelum bayi berusia 1 tahun. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah orangtua sebaiknya tidak memberikan makanan olahan sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI), tapi sebaiknya membuat makanan sendiri untuk bayi.
Jika orangtua memberikan bayi terlalu banyak garam dalam makanannya, maka ia akan cenderung memiliki dorongan keinginan rasa yang kuat seumur hidupnya sehingga memicu konsumsi garam berlebih. Hal ini bisa menyebabkan masalah kesehatan, pada anak kecil konsumsi garam berlebih bisa merusak ginjal serta meningkatkan tekanan darah.
(ver/ir)










































