"Jangan panggil anak dengan panggilan yang merendahkan. Ketika anak merasa dihargai maka ia akan tumbuh (mental), tapi ketika anak merasa direndahkan lama-lama ia akan merasa jatuh kepercayaan dirinya," ujar Dra. Ratna Juwita, Dipl.Psych, staf pengajar di Fakultas Psikologi UI dalam acara Journalist Class 'Membangun Generasi Sehat dan Berbudaya' di FX Plaza, Jakarta, Rabu (3/8/2011).
Menurut Ratna, ada beberapa faktor penting yang dapat menumbuhkan resiliensi (kemampuan beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit) anak, salah satunya dengan menanamkan pengalaman positif dalam pengasuhan, termasuk dengan tidak memanggil anak dengan panggilan yang merendahkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi yang harus diingat adalah anak harus tumbuh secara alamiah dan belajar menghadapi tekanan atau tantangan dari dunia luar secara bertahap.
"Banyak orangtua yang salah kaprah. Mereka pikir agar anak mampu menghadapi masalah sejak kecil, lalu dari TK anak sudah dimasukkan asrama. Ini memang membuat anak mandiri, tapi secara psikologis itu akan mengagetkan. Resiliensi itu akan terbentuk pada anak tapi sesuai dengan tahapan usianya. Kalau memasukkan anak ke asrama saat SMA tidak apa-apa," lanjut Ratna.
Selain itu, yang harus diperhatikan orangtua agar anak dapat mengembangkan resiliensi dan dapat menyelesaikan masalah adalah anak setidaknya memiliki satu hubungan emosional yang stabil dan positif.
"Membesarkan anak dengan baby sitter yang selalu berganti-ganti akan membuat anak tidak mudah percaya pada orang. Paling tidak ada satu orang tetap yang mengasuh anak Anda. Beruntung jika kakek neneknya mau mengasuh, tapi yang terbaik adalah ada satu ikatan emosional yang stabil dan positif dari orantuanya," jelas Ratna.
(mer/ir)











































