Kafein dapat merangsang sifat menarik dari methylxanthine. Methylxanthine bertindak dengan memblokir zat kimia di otak yang menyebabkan rasa kantuk. Kafein juga merangsang produksi adrenalin, yang dapat mempertajam perhatian. Adrenalin juga menyebabkan otak melepaskan dopamin, yang memainkan peran penting dalam menetralkan fungsi motorik yang tidak terkontrol.
Dokter biasanya mengobati ADHD pada anak-anak dengan obat psikostimulan seperti methylphenidate dan dextroamphetamine-amfetamin, yang dipasarkan dengan nama dagang Ritalin dan Adderall.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Remaja sehat boleh mengonsumsi kafein tidak lebih dari 100 mg sehari, seperti dilansir Teens Health. Tingkat konsumsi yang diperlukan untuk mempengaruhi hiperaktif bisa lebih jumlah tersebut.
American Psychological Association menunjukkan bahwa 1-2 cangkir kafein dalam bentuk kopi dapat diterima untuk membantu mengobati gejala hiperaktif, seperti dilansir Livestrong, Kamis (11/8/2011).
Namun sayangnya, pemberian kafein pada anak-anak bisa mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan, seperti insomnia. Dampak kafein secara keseluruhan juga tergantung pada berat badan.
American Psychological Association menunjukkan bahwa menggunakan kafein untuk mengobati hiperaktif pada anak-anak lebih baik daripada tidak ada pengobatan sama sekali. Pada anak yang belum minum obat, gejala hiperaktif bisa meningkat.
Tetapi mengonsumsi kopi seharusnya tidak menjadi pengganti untuk terapi konvensional, apalagi tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter anak Anda. Dengan persetujuan dokter, Anda bisa menambahkan terapi kafein untuk obat anak yang sudah ada atau pertukaran kafein untuk dosis kecil obat.
(mer/ir)











































