Jumat, 28 Feb 2014 10:16 WIB

Sesuai Anjuran WHO, Ibu dengan HIV-AIDS Tetap Dianjurkan Menyusui Bayinya

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik yang dapat diberikan ibu pada bayinya. Mengingat banyak keuntungan dari ASI, salah satunya yaitu mengandung ribuan sel imun hidup dan enzim yang melindungi bayi dari semua macam penyakit. Tak terkecuali ibu dengan HIV-AIDS, dianjurkan memberikan ASI untuk bayinya secara eksklusif.

Dahulu kebijakan badan kesehatan dunia (WHO) tidak menyarankan dan bahkan tidak membolehkan sama sekali ibu dengan HIV-AIDS memberikan ASI pada bayinya. Namun saat ini WHO memberikan kebijakan agar bayi tetap memperoleh ASI dari ibunya, karena ASI memiliki nutrisi lengkap yang sangat dibutuhkan bayi dalam membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan tumbuh kembang bayi.

"Dulunya memang ibu-ibu yang positif HIV tidak disarankan menyusui bahkan tidak menyusui sama sekali. Namun sekarang rekomendasi WHO tidak seperti itu. Rekomendasinya adalah sebaiknya disusui bayinya dengan didampingi oleh tenaga kesehatan yang kompeten," ujar Nia Umar, S.Sos, IBCLC saat ditemui pada acara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dengan tema Pentingnya Berinvestasi pada Proses Ibu Menyusui Bayi, di De Resto - Plaza Festival, Jl HR Rasuna Said Kav. C22, Jakarta dan ditulis Jumat (28/2/2014).

Dari hasil penelitian yang diperoleh, Nia menjelaskan bahwa bila bayi tak disusui ASI oleh ibunya justru memiliki risiko lebih tinggi tertular HIV daripada tidak disusui. Selain itu angka risiko kematian pun meningkat bila bayi tersebut diberikan susu formula.

"Ternyata hasil penelitian kalau bayinya tidak disusui malah tertular HIV akan lebih tinggi daripada tidak disusui dan risiko kematiannya lebih tinggi pada yang mendapatkan susu formula daripada yang disusui," terang Nia.

Nia menuturkan ia pernah menjumpai ibu dengan HIV-AIDS yang membagi pengalamannya melalui situs resmi yang dikelola oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia atau AIMI. Mendapati email itu, Nia tidak tinggal diam. Bersama Mia Sutanto selaku ketua AIMI yang didampingi oleh tenaga kesehatan, dia ikut membantu ibu dengan HIV-AIDS tersebut memberikan ASI pada bayinya.

Nia berharap pemerintah serta lembaga-lembaga lainnya bisa membuat program atau kegiatan dalam mendukung pemberian ASI bagi bayi yang mempunyai ibu yang positif HIV. "Pemerintah atau lembaga bisa membuat program-program terkait isu HIV dan menyusui karena memang ternyata ini sangat membantu," harapnya.

Dikutip dari situs WHO, pada 30 November 2009, WHO merilis rekomendasi baru tentang pemberian ASI oleh ibu yang positif HIV. Untuk pertama kalinya, WHO merekomendasikan bahwa ibu yang positif HIV atau anaknya dapat diberi obat antiretroviral selama periode menyusui dan sampai bayinya berusia 12 bulan. Ini artinya bayi masih bisa diberi ASI sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan dari ASI dengan risiko yang sangat kecil terinfeksi HIV.

Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan bayi dikaitkan dengan risiko penularan HIV yang justru tiga hingga empat kali lipat lebih rendah dibandingkan bayi yang mendapat ASI namun juga mengasup susu lain atau makanan lain.

Studi di Afrika juga menemukan bahwa pemberian kombinasi ARV pada ibu yang positif HIV selama kehamilan, persalinan, dan menyusui mengurangi risiko penularan HIV ke bayi sebesar 42 persen. Studi di Malawi juga menunjukkan risiko penularan HIV berkurang menjadi hanya 1,8 persen pada bayi yang diberi obat antiretroviral nevirapine setiap hari saat menyusui selama 6 bulan.

(hrn/vit)