Menanggapi hal ini, psikolog anak dan remaja Roslina Verauli M.Psi mengatakan memarahi anak atau memaksa anak makan justru akan menciptakan ketegangan pada saat makan dan waktu makan. Akibatnya, anak menolak untuk makan dan makin tidak mau makan.
Selain itu, dikatakan Vera, begitu ia akrab disapa, memarahi anak juga bisa memengaruhi psikis anak maupun orang tua. Anak menjadi merasa tertekan dan tidak nyaman, orang tua pun bisa saja stres. Lantas bagaimana cara tepat menanganinya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atau, campurkan dengan makanan yang disukai anak, misalnya tahu diisi daging dan sayuran lalu dikukus seperti siomay. Diakui Vera, untuk mengatasi picky eater memang tidak mudah. Seringkali orang tua mudah menyerah saat memberikan makanan bernutrisi untuk si kecil. Sehingga, sekali saja anak tidak mau diberi makanan tertentu, orang tua langsung berhenti mencoba memberi makanan itu.
Padahal dikatakan Vera, untuk mengenalkan makanan pada anak dibutuhkan 8-12 kali percobaan yang dilakukan dalam selang waktu beberapa hari bahkan bulan. Selain dengan modifikasi menu, hal terpenting agar anak picky eater mau mengonsumsi makanan yang disajikan adalah adanya contoh dari orang tua.
"Orang tua juga harus menjadi model perilaku makan. Selalu makan bersama dengan anak. Jangan pilih-pilih makan juga sehingga anak bisa meniru apa yang dipelajarinya dari orangtua," tutur Vera.
Pada dasarnya, Vera mengatakan anak-anak terutama yang masih balita cenderung meniru apa yang dilakukan orang di sekitarnya. Sehingga, memberi contoh pada anak untuk memakan segala jenis makanan bisa jadi cara jitu agar si picky eater tak anti lagi terhadap beberapa jenis makanan.
(rdn/up)











































