Dikira mandul, pasangan ini kaget bukan main ketika diberitahu dokter bahwa penyebab sang istri susah hamil adalah karena organ reproduksinya lebih dari satu. Sang istri dilaporkan memiliki dua rahim dan dua vagina sekaligus.
Pasangan yang menikah di tahun 2003 itu harus menunggu beberapa lama untuk bisa memiliki keturunan. Di tahun 2006, Leona terkena stroke mini di bulan Mei. Lalu di bulan Agustus di tahun yang sama, ia mengalami keguguran saat usia kehamilannya baru enam minggu dan dua bulan kemudian ia didiagnosis mengidap epilepsi.
"Tahun itu benar-benar buruk, tapi kami berhasil melewatinya berkat dukungan keluarga," kata Leona. Mereka lantas melakoni prosedur IVF atau bayi tabung, tapi lagi-lagi keguguran terjadi, bahkan hingga tiga kali dalam kurun 2009-2011.
Stres pun melanda Leona dan suaminya, Gary. Apalagi sebelum keguguran, ibu Gary juga meninggal dunia. Gary bahkan sempat cuti kerja selama tiga bulan karena tenggelam dalam depresi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benar saja ketika dilakukan pemeriksaan, betapa kagetnya mereka ketika menemukan rahim, serviks (mulut rahim) dan vagina Leona berjumlah dua buah. "Mereka bilang kondisi ini langka, artinya rahim saya terbelah menjadi dua ketika saya masih dalam kandungan, sehingga organ-organ perkembangbiakan saya juga menjadi dua," ungkapnya seperti dikutip dari Daily Mail, Senin (9/2/2015).
Baca juga: Pap Smear, Wanita Ini Malah Ketahuan Punya Dua Rahim dan Serviks
Kondisi yang disebut dengan 'uterus didelphys' ini hanya terjadi pada satu dari lima juta wanita. Biasanya kondisi ini baru ketahuan ketika dilakukan pap smear atau scan saat mengandung.
Dan pada kasus Leona, wajar bila kemudian ia sering mengalami keguguran karena masing-masing rahimnya lebih kecil dari rahim normal. Selain itu di tiap rahim hanya terdapat satu tuba falopi dan satu ovarium, yang semakin memperkecil peluang kehamilan. Beruntung meskipun organ intimnya ada dua, kehidupan seks Leona tak mengalami kendala.
Leona kemudian dirujuk ke dokter spesialis yang bisa menyambungkan vagina dengan salah satu dari rahim wanita berumur 35 tahun itu. Namun setelah menjalani prosedur, Leona malah jatuh sakit. Tiba-tiba saja Leona sering mengalami halusinasi dan berkeringat dingin. Bahkan Leona sempat merasakan hipotermia.
Ia pun dilarikan ke rumah sakit dan sempat tak sadarkan diri selama 8 jam. Dokter kemudian memanggil keluarganya, karena beberapa organ Leona seperti ginjal dan liver nyaris gagal berfungsi lagi. Menurut dokter, Leona didiagnosis dengan 'ischemic hepatitis', yang disebabkan oleh tekanan darah yang rendah dan dehidrasi.
Beruntung Leona bisa pulih kembali setelah dirawat selama satu bulan. Bahkan enam bulan kemudian Leona dinyatakan berbadan dua oleh dokter. "Ini berkat prosedur untuk menyambungkan vagina dengan salah satu uterus atau rahimnya," ungkap Dr Leila Hanna, dokter ahli kandungan dari BMI The Sloane Hospital yang menangani Leona.
Di usia kandungan 20 minggu, Leona dan Gary diberitahu bila calon bayi mereka berjenis kelamin laki-laki. Namun sebulan kemudian, Leona harus disuntik dengan steroid agar paru-paru si jabang bayi tetap terlindugi, terutama untuk mengantisipasi bila si bayi lahir prematur.
"Kami sangat gugup dan untuk mempertahankan si bayi, kami harus mendapatkan suntikan obat anti-penggumpalan darah setiap hari," imbuh Leona.
Tapi segala perjuangan Leona terbayar sudah. Tepat pada tanggal 9 Desember 2014, Leona akhirnya melahirkan bayi yang kelak diberi nama Hugh setelah 14 tahun menunggu.
Hugh lahir lewat operasi caesar dengan berat mencapai 2,52 kg saja. Namun Hugh dinyatakan sehat oleh dokter. "Saya masih tak percaya dengan kehadirannya. Ia adalah keajaiban bagi kami," tutup Leona.
Baca juga: Hamil Kembar di Dua Rahim Berbeda dalam 1 Perut
(lil/vit)











































