Dikatakan psikolog Jodie Benveniste, teman khayalan bisa muncul ketika anak-anak kreatif dan memiliki imajinasi yang besar. Teman khayalan tercipta untuk membantu anak bermain dengan kreatif. Bahkan, untuk membantu mengekspresikan perasaannya.
"Ekspresi yang diutarakan anak terhadap temannya ini bisa menjadi sumber kenyamanan atau mereka bisa belajar menjalin persahabatan. Dengan bersahabat dengan teman khayalannya itu, anak bisa mencoba berbagai skenario dan emosi," tutur Benveniste.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal tidak terlalu ekstrem dan tidak sampai mengganggu kondisi anak, misalnya anak menjadi cemas atau tertekan, Benveniste menekankan adanya teman khayalan relatif aman. Sebab, ketika teman khayalan tak dibutuhkan lagi, anak akan mengatakan bahwa si teman sudah meninggal, pergi, atau ia tidak lagi membicarakan teman itu.
Dikatakan dr Azimatul Karimah SpKJ, pada kadar yang pas, anak yang memiliki teman khayalan sebenarnya sedang mengembangkan imajinasi ataupun ide dalam bentuk fantasi. Bila tidak didapatkan gangguan fungsi dalam keseharian, maka hal itu masih normal. Kecuali, jika fantasi ini terlihat dominan di sepanjang hari.
"Sehingga dia memilih untuk tidak berinteraksi dengan orang lain disertai gangguan fungsi dalam keseharian (belajar, bermain, perawatan diri) maka perlu dicurigai mengarah pada gejala autisme masa kanak-kanak," tutur dr Uci, begitu ia akrab disapa kepada detikHealth beberapa waktu lalu dan ditulis pada Sabtu (14/2/2015).
Baca juga:Mendongeng, Seni Kuno yang Mampu Tingkatkan Imajinasi Anak
Untuk mengatasi kebiasaan tersebut, dr Uci menyarankan jangan biarkan anak bermain sendiri. Ciptakan lingkungan di mana anak akan berinteraksi dengan orang lain. Caranya, bisa dengan menemani anak bermain, mencarikan teman bermain, atau libatkan anak dalam kelompok bermain.
(rdn/up)











































