Ketika ada waktu bagi keluarga untuk berkumpul, komunikasi yang berkualitas berpotensi memunculkan cerita baru seputar kejadian sehari-hari atau bahkan kejadian lampau. Cerita baru seperti inilah yang membuat keluarga tidak bosan, demikian dikatakan psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani S.Psi, MSi.
"Intensitas bertemu bukan jaminan seseorang kenal keluarganya secara mendalam. Waktu 15 menit aja minimal, kalau keluarga bisa saling komunikasi satu sama lain, nggak sibuk sendiri misalnya, bisa muncul cerita baru berupa hal-hal yang baru terungkap dan itu bisa membuat keluarga lebih bahagia," papar Nina, begitu ia akrab disapa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Nina, cerita baru tidak harus selalu hal-hal yang 'wow'. Bisa saja perkembangan anak atau sesuatu yang dipendam sebelumnya. Menggali cerita baru yang belum terungkap dari masing-masing anggota keluarga dirasa Nina sangat penting, utamanya untuk menghindari kehidupan keluarga yang monoton.
"Ada cerita harian tapi yang itu-tu saja kehidupan keluyarga akan membosankan. Ada cerita baru itu bisa mengungkap sisi lain dari keluarga dan masing-masing anggota keluarga lho, terkait hobi, kebiasaan, atau kepribadian mereka. Nah, saat kita tahu keluarga kita kayak gimana, kita bisa bantu mengorganisir hal itu," imbuh ibu dua anak ini di acara '15 Menit SariWangi Cerita baru' di Blue Jasmine Restaurant, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2015).
Nina mencontohkan dirinya sendiri yang baru mau mengungkapkan keinginannya yang terpendam sejak lama yaitu bertandang ke Toraja. Saat ngobrol bersama, ia baru mengutarakan hal itu dan akhirnya Nina sekeluarga pun pergi ke Toraja.
"Dengan begitu kan keinginan salah satu anggota keluarga terpenuhi, dia dan anggota keluarga lainnya pun bahagia. Begitu juga dengan hal-hal yang negatif misal anak baru cerita dia pernah dibully, kan bisa orang tua mengambil penyelesaian untuk masalah itu," tutur Nina.
Baca juga: Yuk Bangun Suasana Ngobrol yang Menyenangkan Agar Anak Terbuka pada Ortu
Khusus bagi anak, ada keuntungan yang dirasakan ketika mereka terbiasa mengutarakan cerita yang dialami yakni mereka terlatih lebih lancar mengemukakan pendapat. Sebab, dikatakan Nina, pada beberapa orang keterampilan komunikasi tidak langsung didapat begitu saja, tetapi perlu dilatih.
Senada dengan Nina, Ratna Susianawati, SH, MH selaku Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengatakan jika frekuensi orang tua bertemu dengan anak selama 8 jam tidak menjamin keterbukaan. Ia mengingatkan, dalam konteks perlindungan anak orang tua harus ingat bahwa ada sisi yang tidak diketahui orang tua dari anak.
"Sebab, bisa jadi menurut orang tua hal itu bagus tapi dari sisi anak hal tersebut justru membuat mereka tidak nyaman. Misal anak mau ujian, ibu ingin anak dapat nilai baik tapi jangan lupa apa sih potensi anak sebenarnya? Jangan hanya tuntut nilai baik tapi kita eksplor kesulitan dan kelebihan anak di akademik apa, jangan dipaksakan agar anak tidak stres," tutur Ratna. (Radian Nyi Sukmasari/Nurvita Indarini)











































