Terlalu Sering Diberi Obat, Anak Jadi Mudah Alergi

ADVERTISEMENT

Terlalu Sering Diberi Obat, Anak Jadi Mudah Alergi

- detikHealth
Sabtu, 18 Apr 2015 08:09 WIB
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Sebagai orang tua, sangat wajar bila ingin memberi anak obat agar penyakitnya hilang. Hanya saja, takaran dosis dan penggunaannya harus tepat. Jika tidak, anak akan jadi mudah alergi.

dr Zakiudin Munasir, SpA(K), Ketua Divisi Alergi dan Imunologi, FKUI-RSCM, mengatakan bahwa kecenderungan orang tua sekarang yang mudah terlalu panik membuat anak rentan diberi obat meski belum membutuhkan. Jika dilakukan terus-menerus, tubuh anak akan sensitif terhadap obat tersebut.

"Kalau demam sedikit dikasih parasetamol, besoknya dikasih parasetamol. Minggu depannya dikasih lagi, nanti lama-lama anak jadi sensitif terhadap obat tersebut. Dan akhirnya alergi terhadap parasetamol," tuturnya, dalam temu media Morinaga Allergy Week di Kalcare, Lotte Shopping Avenue, Jl Prof dr Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan, dan ditulis Sabtu (18/4/2015).

Baca juga: Bayi Masih ASI Ekslusif, Bolehkah Minum Obat Dicampur Air Putih?

Menurut dr Zaki, jika anak demam ringan tak perlu parasetamol. Kompres merupakan salah satu pertolongan pertama yang dapat dilakukan. Namun jika anak panas sudah berhari-hari dan panasnya semakin tinggi, saat itu harus segera dibawa ke dokter.

Selain obat demam, dr Zaki juga memperhatikan penggunaan antibiotik yang berlebihan. Menurutnya, penggunaan antibiotik yang berlebihan sangat berbahaya. Antibiotik memang akan memperkuat sistem imun tubuh terhadap serangan infeksi, namun memperlemah sistem pertahanan alergi.

"Jadi di sistem imun ada namanya sel T helper. TH1 ini untuk antibodi infeksi, dan TH2 untuk antibodi alergi. Kalau TH1 ini sangat kuat, maka TH2 akan melemah yang membuat anak menjadi lebih mudah alergi," tuturnya lagi.

Ia menjelaskan bahwa pada prinsipnya, antibodi TH1 dan TH2 harus seimbang. Hal ini bisa dilihat dari beragam penelitian soal antibodi tubuh, di mana anak dengan TH1 lebih kuat akan sulit terserang penyakit infeksi tapi lebih mudah alergi. Sebaliknya, anak dengan TH2 lebih kuat akan lebih mudah terserang infeksi namun kuat terhadap alergen yang masuk ke tubuh.

Jika penggunaan antibiotik berlebihan dilakukan terus-menerus, bisa jadi antibodi anak malah akan hilang. Sebabnya, antibiotik tidak hanya membunuh kuman jahat, namun juga kuman baik yang ada di tubuh.

"Kalau seluruh kuman hilang, antibodi tidak ada pekerjaan. Akhirnya tubuh jadi tidak memproduksi lagi," ungkapnya.

"Yang harus diperhatikan adalah bukan tidak boleh menggunakan antibiotik, namun penggunaan antibiotik harus tepat guna dan tepat dosis, tidak boleh berlebihan, dan harus dengan resep dokter," pungkasnya.

Baca juga: Anak Sering Diberi Antibiotik, Risiko Obesitas Bisa Mengancam

(rsm/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT