Informasi yang simpang siur soal alergi tak jarang membuat orang bingung. Ada yang mengatakan alergi bisa sembuh jika sudah terbiasa, ada pula yang mengatakan alergi anak akan terbawa hingga dewasa.
Prof Budi Setiabudiawan, SpA(K), MKes, Ketua UKK Alergi dan Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan bahwa beberapa informasi soal alergi yang ada di masyarakat memang benar. Namun tak sedikit juga yang ternyata salah dan tak boleh dilakukan.
"Salah satunya itu, kalau anak alergi udang, dibiasakan saja makan udang sedikit-sedikit supaya tubuh terbiasa dan alerginya hilang. Padahal itu tidak boleh. Kalau anak alergi berat, akibatnya untuk tubuh juga bisa parah," papar Prof Budi dalam temu media Morinaga Allergy Week di Kalcare, Lotte Shopping Avenue, Jl Prof dr Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan, dan ditulis Sabtu (18/4/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Alergi makanan hilang seiring bertambahnya usia anak
|
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
"Kalau alergi telur atau susu sapi dan olahannya itu memang akan toleran di kemudian hari. Karena semakin besar, antibodi tubuh akan semakin sempurna. Tentunya ini harus dibarengi dengan pemenuhan gizi yang cukup," ungkapnya,
Namun khusus kacang dan makanan laut seperti udang, cumi dan ikan, alergi yang diidap biasanya akan menetap. Belum jelas apa penyebabnya, namun harus diingat bahwa memberikan makanan tersebut sedikit-sedikit tidak akan membuat alergi hilang.
"Contohnya saya, saya dari kecil sampai sekarang alergi udang. Kalau makan udang langsung dermatitis atau eksim," tutur dr Zakiudin Munasir, SpA(K), Ketua Divisi Alergi dan Imunologi, FKUI-RSCM.
2. Mudah alergi membuat nilai pelajaran anak jelek
|
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Ia mengatakan alergi memang akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Anak akan mudah sakit sehingga jadi sulit beraktivitas, termasuk bermain dan pergi ke sekolah untuk belajar.
"Misalnya anak alergi sesuatu dan sering asma atau eksim. Bukan karena alerginya dia jadi bodoh, tapi karena dia sering ijin tidak masuk untuk berobat atau istirahat, sehingga ketinggalan pelajaran di sekolah dan nilainya jelek," ungkap Prof Budi.
3. Polusi dapat memperparah alergi
|
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
"Polusi dan asap rokok akan melemahkan daya tahan tubuh. Akibatnya daya tahan tubuh anak berkurang, yang tadinya nggak apa-apa kalau ada alergen masuk, sekarang bisa jadi parah," ungkapnya.
4. Makanan yang dimakan ibu hamil sebabkan anak alergi
|
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Hal ini juga termasuk tidak memakan makanan tertentu supaya anak terhindar dari alergi. Prof Budi sangat tidak merekomendasikan hal ini karena bisa jadi asupan gizi yang diterima ibu hamil malah terbatas atau kurang.
"Misalnya nggak mau makan telur atau minum susu karena takut anak alergi. Padahal nggak begitu, ibu hamil TH2 (antibodi alergen) lebih tinggi daripada TH1 (antibodi infeksi). Jadinya aman-aman saja makan kacang, susu, atau makanan lain asal gizinya cukup," ungkapnya.
5. Anak jarang keluar rumah akan bebas alergi
|
Ilustrasi (Foto: Getty Images)
|
Mengurung anak di rumah malah menurutnya akan membuat anak lebih rentan alergi. Meski begitu, bukan berarti lantas anak dibiarkan bermain di tempat-tempat yang penuh kuman dan malah terserang penyakit infeksi.
"Ya kalau anak main di luar tidak apa-apa. Tapi bukan berarti agar dia berinteraksi dengan kuman anak misalnya dibolehkan main di tempat sampah, nanti malah kena infeksi berbahaya," ungkapnya.
Cara terbaik untuk membuat kuman masuk tubuh tapi tak menyebabkan anak terserang penyakit parah adalah dengan imunisasi. Kuman yang tertidur dalam vaksin tidak akan membuat anak terserang penyakit, namun sistem daya tahan tubuh tetap akan bereaksi dan membentuk antibodi untuk penyakit.











































