Apalagi kalau bukan menyusui. Menurut peneliti dari University of Haifa, Israel, meski jumlah ibu menyusui di Barat mulai terlihat mengalami peningkatan, namun 45 persen di antaranya masih memberi makan anaknya dengan susu formula di usia enam minggu, dan 66 persen lainnya memberikan susu botolan hingga enam bulan lamanya.
Baca juga: Ngantuk Berat? Sebaiknya Ibu Tidak Susui si Kecil Sambil Tiduran Ya
Kemudian mereka mencoba me-review 18 studi yang berbeda dari berbagai belahan dunia. Di sinilah mereka menemukan kesimpulan bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama minimal enam bulan mengalami penurunan risiko leukemia 19 persen lebih besar ketimbang bayi yang diberi susu formula.
Salah satu alasan terkuatnya adalah karena ketika menyusui ada perpindahan senyawa kimia dari ibu ke anak yang bertujuan untuk menaikkan kekebalan imun mereka.
"Hanya saja potensi menyusui ini tidak dikomunikasikan dengan baik kepada para ibu, untuk itu kami mendorong agar hal-hal semacam ini lebih banyak dibicarakan di depan publik. Selain itu agar praktik menyusui itu sendiri lebih diterima secara publik, bahkan kalau perlu difasilitasi," harap peneliti seperti dikutip dari JAMA Pediatrics, Kamis (4/6/2015).
Sepakat dengan temuan ini, Dr Colin Michie dari Royal College of Paediatrics and Child Health menambahkan manfaat menyusui bagi anak-anak sangatlah beragam.
"Bayi yang disusui juga lebih jarang terkena infeksi di dada maupun telinganya, atau mengalami diare dan obesitas. Mereka pun juga jarang sakit," paparnya.
Baca juga: Hai Suami, Lakukan Pemijatan Seperti Ini Agar Produksi ASI Istri Lancar
Mia Sutanto, Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mengingatkan bahwa keberhasilan ibu dalam memberikan ASI eksklusif tergantung pada keterlibatan suami.
"Peranan suami sangat dianjurkan, jadi sekarang kalau kita berbicara menyusui jangan hanya berbicara ibunya tapi ayahnya juga harus terlibat. Sejak kapan? Idealnya sejak masa kehamilan. Jadi sama-sama belajar tentang ASI, menyusui, inisiasi menyusui dini, dan fasilitas kesehatan pro ASI," ujar Mia beberapa waktu lalu.
Mia mengatakan ada perbedaan signifikan dalam kesuksesan memberikan ASI eksklusif antara istri yang didukung oleh suaminya dengan yang tidak. Istri yang didukung pasangan menurutnya bisa berhasil menuntaskan ASI eksklusif hingga hampir 100 persen, sementara yang tidak didukung mungkin persentase keberhasilannya hanya mencapai 30 persen.
Bentuk dukungan yang diberikan juga tak perlu muluk. Cukup dengan menjaga agar ibu tetap merasa nyaman dan happy. Karena seperti dikatakan Mia, bagaimanapun kelancaran ASI dipengaruhi oleh kondisi emosional ibu.
(lll/up)










































