"Cinta ke anak jangan sampai jadi cinta buta," kata psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi dari RaQQi Consulting dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (30/6/2015).
"Jadi sebenarnya mencintai anak itu bukan mengasihani. Kalau seperti itu nggak logis. Cinta itu menggabungkan perasaan dan logika. Kalau memberi apapun yang diminta anak karena kasihan, artinya logika terkesampingkan," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak, lanjut Ratih, ditakdirkan menerima. Sementara orang tualah yang memberikan sesuatu kepada anaknya, tak terkecuali konsep cinta. Ketika orang tua memiliki sedikit waktu untuk bertemu dengan anak, maka cara 'menebusnya' bukan dengan jor-joran memberikan semua permintaan anak.
"Anak belum mengenal apa yang dia butuhkan dan dia inginkan. Beberapa anak ketika ditanya 'apa cita-cita kamu' dijawabnya 'nggak tahu. Itu karena dia nggak tahu apa yang diminati," tutur Ratih.
Bahwa ketika orang tua tidak membelikan mainan yang diminta anak, itu bukan berarti tidak cinta. Karena kerap kali bagi anak, cinta itu dibaca sebagai waktu yang diberikan orang tua untuk dirinya.
"Jadi kalau sehari-hari sedikit waktu ketemu sama anak, sebaiknya luangkan waktu di akhir pekan. Bukan dengan membelikan anak gadget karena orang tua tidak ingin diganggu saat sedang ber-gadget," tambah Ratih.
Baca juga: Mengatasi Perilaku 'Anak Mama' (vit/ajg)










































