Salah satu mata pelajaran yang sering mendapat sorotan adalah matematika. Seperti kita tahu, tak semua anak pandai dalam bidang ini. Biasanya anak yang pandai matematika juga memiliki orang tua dengan kemampuan yang sama. Hal ini mendorong peneliti dari University of Chicago untuk mencari tahu faktor penentu kemampuan berhitung setiap anak.
Peneliti lantas melakukan pengamatan terhadap lebih dari 400 anak usia sekolah dasar, terutama kelas 1 dan 2 dalam dua periode, di tahun pertama masuk sekolah dan tahun terakhir. Masing-masing dari partisipan juga diminta menjelaskan bagaimana reaksi mereka saat berada dalam situasi seperti ketika mengerjakan ulangan matematika, atau dipanggil guru ke depan untuk mengerjakan soal di papan tulis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata memiliki orang tua yang tak menyukai matematika berdampak buruk terhadap nilai si anak. Pengaruh ini terlihat utamanya pada partisipan yang orang tuanya cenderung cemas ketika menghadapi soal berhitung, entah karena pengalaman saat masih sekolah atau ketidaksukaan mereka ('math-anxious'), tetapi tetap berusaha membantu anak-anaknya saat mengerjakan tugas berhitung.
Pasalnya partisipan yang orang tuanya tak menyukai matematika namun tidak membantu anak-anaknya justru tidak merasakan 'kegelisahan' yang sama.
"Kita mungkin tidak berpikir keduanya berhubungan, tapi saat orang tua melihat anak mengerjakan PR matematika kemudian mengaku tak menyukainya atau gugup ketika diminta membantu menjelaskan akan memberikan pengaruh langsung pada si anak," ungkap peneliti Sian Beilock seperti dikutip dari Medical Daily, Jumat (14/8/2015).
Baca juga: Kemampuan Matematika Anak Lebih Penting dari Bahasa? Ini Faktanya
Sebelumnya sebuah penelitian yang dilakukan oleh VU University Medical Center, Amsterdam menemukan kemampuan berhitung anak sudah ditentukan sejak dalam kandungan. Sebab ibu hamil yang kekurangan hormon thyroxine berisiko dua kali lebih besar melahirkan anak yang tak pandai matematika.
Sang peneliti, Dr Martijn Finken menjelaskan, hormon thyroxine merupakan faktor krusial dalam pembentukan otak janin. Terbukti dari penelitian mereka, 90 persen anak yang ibunya diketahui memiliki kadar thyroxine rendah dalam tubuhnya saat hamil, rata-rata mendapat nilai yang kurang memuaskan dalam tes matematika.
Selain itu, mereka juga mengalami keterlambatan dalam memahami pelajaran berhitung serta aritmatika lainnya.
Baca juga: Matematika Bisa Jadi Fobia, Ini Penjelasannya (lll/up)










































