Jakarta -
Trauma otak pada anak memang bisa berpengaruh pada tumbuh kembangnya. Beberapa kondisi pun bisa dialami si kecil pasca mengalami trauma otak atau kerap disebut gegar otak.
Selain masalah atensi dan emosional yang cenderung sulit diungkapkan oleh anak, berikut ini beberapa kondisi yang bisa dialami anak pasca mengalami gegar otak dirangkum detikHealth dari berbagai sumber pada Selasa (1/9/2015).
Baca juga: Hormon Ini Berguna untuk Cegah Cedera Otak pada Bayi Prematur
1. Masalah Atensi pada Anak
Foto: thinkstock
|
Pada anak yang menderita trauma otak, biasanya mereka cenderung lambat dalam merespons sesuatu hal yang terjadi di sekitarnya. Hal ini bisa disebabkan karena jaringan dalam otak mengalami trauma sehingga mengakibatkan kerusakan pada saraf-saraf otak dalam merespon sesuatu yang dialami atau yang ada disekitarnya.
Bagi keluarga, diharapkan bisa memberi pengertian bahwa akibat trauma pada otaknya, anak bisa saja malah berimajinasi dan melamun ketika sedang belajar.
2. Masalah Emosi dan Sikap
Foto: thinkstock
|
Anak yang mengalami gegar otak biasanya akan mengalami gejala yang disebut 'fat - effect' di mana mereka kurang merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Kemudian, anak bisa menutup diri atau diam. Biasanya, anak yang mengalami trauma pada otak akan mengalami gangguan pada lobus frontal yang berfungsi mengatur kepribadian dan impulsifitas emosi.
Namun apabila terkena trauma, maka anak tersebut bisa saja tidak dapat mengontrol emosinya bahkan meledak-ledak, seperti mengamuk, melempar barang, dan berkata yang tidak baik. Anak dengan trauma otak yang cukup parah dapat mudah merasa cemas dan agresif dalam satu waktu.
3. Dilema dan Trauma
Foto: thinkstock
|
Akibat perubahan emosi dan gangguan atensi, biasanya lingkungan sekitar dari keluarga atau sekolah akan mulai merespons perubahan yang terjadi pada anak dalam bentuk berbeda-beda. Ada pihak yang bisa menerima perubahan pada anak bahkan berniat menolong anak tersebut, tapi ada juga yang mengejek atau mem-bully si anak.
Kondisi ini pun membuat anak mengalami dilema dan trauma. Akibatnya, ia akan menarik diri dari lingkungan sekitar. Hal ini juga dapat menyebabkan anak menjadi lebih emosional dan kasar.
4. Kehilangan kesadaran dan Amnesia
Foto: thinkstock
|
Trauma otak dengan tingkat keparahan sedang sampai parah akan menyebabkan kerusakan jaringan otak yang merusak sel otak. Keadaan ini dapat menyebabkan anak kehilangan kesadaran dalam waktu sekitar 30 menit dan mengalami post-trauma amnesia sekitar satu jam atau lebih lama.
Setelahnya, anak pun akan cenderung bingung dengan keadaan sekitar. Pada saat itu, orang tua terutama diharapkan bisa mengerti dengan kondisi yang dialami anak.
5. Mudah lelah
Foto: thinkstock
|
Anak cenderung mudah lelah karena ia memaksakan diri untuk kembali seperti normal sedia kala. Mereka cenderung merasa ada yang salah pada dirinya. Kelelahan yang terjadi bisa disebabkan tubuh yang merespons otomatis untuk memperbaiki trauma jaringan yang terjadi di otak, terutama bagian ganglia otak.
Untuk itu, para orang tua dan lingkungan sekitar harus terus mendukung upaya kesembuhan anak dengan memberi motivasi, membuat anak merasa nyaman dengan lingkungan dan perubahan yang dialaminya, membuat anak percaya pada hal-hal dasar yang dapat membangun kepercayaan diri mereka.
Pada anak yang menderita trauma otak, biasanya mereka cenderung lambat dalam merespons sesuatu hal yang terjadi di sekitarnya. Hal ini bisa disebabkan karena jaringan dalam otak mengalami trauma sehingga mengakibatkan kerusakan pada saraf-saraf otak dalam merespon sesuatu yang dialami atau yang ada disekitarnya.
Bagi keluarga, diharapkan bisa memberi pengertian bahwa akibat trauma pada otaknya, anak bisa saja malah berimajinasi dan melamun ketika sedang belajar.
Anak yang mengalami gegar otak biasanya akan mengalami gejala yang disebut 'fat - effect' di mana mereka kurang merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Kemudian, anak bisa menutup diri atau diam. Biasanya, anak yang mengalami trauma pada otak akan mengalami gangguan pada lobus frontal yang berfungsi mengatur kepribadian dan impulsifitas emosi.
Namun apabila terkena trauma, maka anak tersebut bisa saja tidak dapat mengontrol emosinya bahkan meledak-ledak, seperti mengamuk, melempar barang, dan berkata yang tidak baik. Anak dengan trauma otak yang cukup parah dapat mudah merasa cemas dan agresif dalam satu waktu.
Akibat perubahan emosi dan gangguan atensi, biasanya lingkungan sekitar dari keluarga atau sekolah akan mulai merespons perubahan yang terjadi pada anak dalam bentuk berbeda-beda. Ada pihak yang bisa menerima perubahan pada anak bahkan berniat menolong anak tersebut, tapi ada juga yang mengejek atau mem-bully si anak.
Kondisi ini pun membuat anak mengalami dilema dan trauma. Akibatnya, ia akan menarik diri dari lingkungan sekitar. Hal ini juga dapat menyebabkan anak menjadi lebih emosional dan kasar.
Trauma otak dengan tingkat keparahan sedang sampai parah akan menyebabkan kerusakan jaringan otak yang merusak sel otak. Keadaan ini dapat menyebabkan anak kehilangan kesadaran dalam waktu sekitar 30 menit dan mengalami post-trauma amnesia sekitar satu jam atau lebih lama.
Setelahnya, anak pun akan cenderung bingung dengan keadaan sekitar. Pada saat itu, orang tua terutama diharapkan bisa mengerti dengan kondisi yang dialami anak.
Anak cenderung mudah lelah karena ia memaksakan diri untuk kembali seperti normal sedia kala. Mereka cenderung merasa ada yang salah pada dirinya. Kelelahan yang terjadi bisa disebabkan tubuh yang merespons otomatis untuk memperbaiki trauma jaringan yang terjadi di otak, terutama bagian ganglia otak.
Untuk itu, para orang tua dan lingkungan sekitar harus terus mendukung upaya kesembuhan anak dengan memberi motivasi, membuat anak merasa nyaman dengan lingkungan dan perubahan yang dialaminya, membuat anak percaya pada hal-hal dasar yang dapat membangun kepercayaan diri mereka.
(rdn/up)