dr Andreas Prasadja, RPSGT, pakar kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran mengatakan bahwa night terror merupakan salah satu gangguan tidur yang bisa terjadi pada anak. Sekilas memang anak seperti sedang mengalami mimpi buruk, namun ternyata kondisinya agak berbeda.
Baca juga: Berbakat Ngelindur Atau Tidak, Tanda-tandanya Sudah Tampak Sejak Balita
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Ade mengatakan bahwa night terror biasa terjadi pada anak usia 2 hingga 3 tahun. Ketika mengalami night terror, anak akan menjerit, berteriak, atau bergerak secara aktif sesuai yang ia alami. Fenomena ini pada beberapa ahli dikaitkan dengan fenomena berjalan sambil tidur hanya saja bedanya penderita night terror tidak hanya berjalan tapi juga meronta bahkan bisa melawan jika seseorang memaksanya bangun.
Meski begitu, dr Ade mengatakan bahwa night terror pada anak akan hilang dengan sendirinya ketika anak sudah agak besar. Biasanya, kondisi ini hilang ketika anak memasuki usia 5 atau 6 tahun.
Ahli tidur Lisa Shives, pendiri Northshore Sleep Medicine, Amerika Serikat, mengatakan night terror biasanya terjadi pada 1% hingga 6% anak-anak namun pada kasus langka bisa juga terjadi pada orang dewasa.
Beberapa penyebab yang mungkin dapat memicu night terror menurut ahli di antaranya adalah kurang tidur, kelelahan, stress, gangguan pernapasan, demam, migrain, cedera kepala, serta perubahan lingkungan seperti suara dan cahaya.
"Kami belum tahu pasti apa penyebabnya, tapi fenomena ini dikelompokkan sebagai gangguan tidur. Seseorang dengan kondisi ini tampak seperti setengah terjaga dan setengah tertidur dengan mata terbuka namun masih dalam keadaan bermimpi. Mereka tidak merespons pada lingkungan sekitar dan akan marah jika ditenangkan atau disadarkan," terang Shives.
Baca juga: Night Terror, Fenomena Tidur Setingkat di Atas Mimpi Buruk
(mrs/up)











































