"Dengan terapi sederhana ini tidak mungkin anak-anak yang mengidap mata malas akan menolak," ujar dr Eileen E. Birch dari University of Texas Southwestern Medical Center, dikutip dari Medical News Today, Selasa (20/10/15).
Baca Juga: Berawal dari Underestimate, Lahirlah Diskriminasi pada Tunanetra
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mata yang lebih kuat ditutup sehingga tidak dapat melihat apapun dan mata yang lemah atau malas distimulasi dengan alat bantu. Terapi ini biasanya menggunakan alat bantu berupa permainan komputer ataupun gambar.
Namun Birch menganggap terapi ini tidak efektif. Beberapa anak menganggap permainan yang ada terlalu sulit. Sementara anak lainnya cepat bosan dengan gambar atau buku yang itu-itu saja. Ia pun mencoba metode baru dengan menggunakan film 3D (tiga dimensi)
Dalam studi ini, delapan anak pada rentang usia empat sampai sepuluh tahun menonton film favorit selama enam sesi pengobatan dalam waktu dua minggu. Gambar film yang ditampilkan kepada anak-anak berbentuk seperti sedang melihat dengan menggunakan teropong.
Hasilnya anak-anak yang melakukan terapi menunjukkan kondisi yang cukup baik secara visualnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menggunakan film 3D lebih efektif daripada menggunakan buku, gambar atau bahkan permainan.
"Anak-anak mencapai ketajaman visual hanya dengan dalam waktu 2 minggu. Cara ini lebih efektif daripada melakukan tambal pada mata ataupun dengan menggunakan kacamata," jelas Brich.
Baca juga: Mata Juling Dibiarkan Hingga Dewasa, Apa Dampaknya?
Mata malas sendiri adalah istilah untuk salah satu mata yang kemampuan melihatnya lebih lemah. Kelemahan ini dikarenakan bentuk abnormal dari kornea mata (astigmatisme), mata juling (strabismus) atau rabun jauh maupun rabun dekat. (mrs/mrs)











































