Menurut konselor laktasi RS Hermina Bekasi, dr Sylvia Haryeny, IBCLC, untuk mempertahankan produksi ASI maka bayi harus terus menyusu. Bila bayi kurang menyusu, jumlah prolaktin menurun dan payudara menghasilkan ASI lebih sedikit.
"Ketika bayi menyusu pada satu payudara, rangsangan sensorik dari puting payudara tersebut dikirim ke otak. Sebagai jawabannya, bagian depan kelenjar pituitari di dasar otak mengeluarkan prolaktin. Prolaktin masuk ke dalam darah menuju payudara dan menyebabkan sel-sel pembuat ASI memproduksi ASI. Jadi hormon ini membuat payudara memproduksi ASI untuk penyusuan berikutnya," tuturnya kepada detikHealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penghentian ini membantu melindungi payudara yang di dalamnya masih tertinggal banyak ASI tersebut dari bahaya efek kepenuhan. Hal ini jelas diperlukan bila bayi meninggal atau berhenti menyusu untuk alasan lainnya. Bila ASI dikeluarkan, lewat penyusuan atau diperah, inhibitor juga turut dikeluarkan dan payudara tersebut membuat ASI lagi," imbuhnya.
Nah, agar payudara terus menghasilkan ASI, maka ASI yang ada di dalamnya harus dikeluarkan. Hal ini penting dilakukan secara seimbang antara kedua payudara, agar produksi ASI pun seimbang dan ukuran payudara tak berbeda.
Bila bayi tidak dapat menyusu dari salah satu atau kedua payudara, ASI harus dikeluarkan dengan pemerahan untuk memungkinkan produksi ASI berlanjut.
"Jadi bila tidak sedang bersama bayi, misalnya saat bekerja, ibu perlu mengeluarkan ASI secara rutin untuk menjaga supaya inhibitor tidak terus berada di dalam payudara," ungkap dr Sylvia, seperti ditulis pada Selasa (5/1/2016).
Baca juga: Pasca Diperkenalkan MPASI Bayi Rentan Sakit? Mungkin Ini Sebabnya
(ajg/up)











































